Sabtu, 14 April 2012

VALIDITAS KONSTRUK DALAM PERILAKU ORGANISASI DARI DONALD P.SCHWAB

A. PENDAHULUAN

Tulisan ini dimulai dengan peninjauan validitas konstruk dan artinya dalam setting ilmih dan terapan . disini juga dibahas Metode untuk menilai validitas konstruk . Ilustrasi dan ukuran ukuran dalam melakukan eksperimental juga telah digunakan dalam literatur perilaku organisasi untuk menggambarkan konsekuensi dari kegagalan untuk memberi perhatian yang cukup terhadap masalah validitas konstruk. Akhirnya, rekomendasi dibuat untuk urutan yang tepat dari validasi konstruk dan penyelidikan substantif dalam pengembangan pengetahuan
validitas konstruk secara ekslusif telah dipertimbangkan dengan mengacu pada mengukur skala atau instrumen yang bermacam-macam, seperti yang ditunjukkan, biasanya dalam tes psikologi. Perspektif semacam ini tidak perlu dibatasi karena isu yang terlibat tersebut sudah tepat dipertimbangkan ketika mengevaluasi kecukupan dari manipulasi eksperiment atau quasi eskperimen
Hubungan antar variabel dapat didefinisikan dengan banyak cara. Definisi ini tergantung pada apakah variabel variabel yang digunakan dalam hubungan tersebut bersifat konsepsual, operasional atau campuran dari keduanya tersebut. Validitas konstruk didefinisikan sebagai gambaran mengenai hubungan antara konstruks( definisi konseptual mengenai variabel) dan prosedur operasional untuk mengukur atau memanipulasi konstruks tesebut. Dari definisi ini dapat diterima bahwa validitas kontruk tersebut menunjukkan koefisien korelasi antara konstruk dan ukuran.
. Konstruks tersebut merupakan istilah konseptual yang digunakan untuk menggambarkan fenomena dari minat teoritis (Cronbach & Meehl, 1955; Edwards & Bagozzi, 2000; Messick, 1981). Konstruks merupakan istilah istilah yang ditemukan oleh para peneliti untuk menggambarkan,mengorganisir, dan memberi arti pada fenomena yang relevan dengan domain penelitian (Cronbach & Meehl, 1955; Messick, 1981; Nunnally, 1978; Schwab, 1980).

validitas konstruk secara ekslusif telah dipertimbangkan dengan mengacu pada mengukur skala atau instrumen yang bermacam-macam, seperti yang ditunjukkan, biasanya dalam tes psikologi. Perspektif semacam ini tidak perlu dibatasi karena isu yang terlibat tersebut sudah tepat dipertimbangkan ketika mengevaluasi kecukupan dari manipulasi eksperiment atau quasi eskperimen
Hubungan antar variabel dapat didefinisikan dengan banyak cara. Definisi ini tergantung pada apakah variabel variabel yang digunakan dalam hubungan tersebut bersifat konsepsual, operasional atau campuran dari keduanya tersebut. Validitas konstruk didefinisikan sebagai gambaran mengenai hubungan antara konstruks( definisi konseptual mengenai variabel) dan prosedur operasional untuk mengukur atau memanipulasi konstruks tesebut. Dari definisi ini dapat diterima bahwa validitas kontruk tersebut menunjukkan koefisien korelasi antara konstruk dan ukuran.
Bahaya utama dalam menentukan validitas konstruk menurut istilah korelasi adalah penafsiran bahwa konstruk itu nyata dalam beberapa cara operasional dan bahwa beberapa ukuran nyata tersebut dapat diperoleh.Bahaya yang merupakan akibat dari analogi korelasional adalah jika orang berpikir bahwa korelasi antara ukuran dan konstruk berkaitan dengan proses yang digunakan untuk menilai validitas empiris.
Pentingnya validitas konstruk dan metode yang digunakan untuk menilainya tergantung pada salah satu dari dua tipe riset substantif.Menurut kerangka ini, konstruk mendapat perhatian hanya jika konstruks tersebut dihubungkan dengan konstruk lainnya. Ukuran-ukuran konstruk tersebut menarik hanya jika ukuran –ukuran tersebut sesuai dengan ukuran—ukuran kosntruk lainnya.Contoh dari perilaku organisasi mencakup hubungan antara (1) konflik peran dan kepuasan kerja ; (2) gaya kepemimpinan dan masa jabatan karyawan; (3) desain tugas dan iklim organisasi: (4) hukumana dan ketidakhadiran karyawan; dan (5) bentuk organisasi dan komitmen. Variabel-variabel ini ditunjukkan pada dua tingkat abstraksi, yaitu konseptual ( I dan D) dan operasional (I dan D). Hubungan vetikal H dan DD menunjukkan validitas konstruk, sedangkan hubungan horisontal, yaitu ID dan DD merupakan hubungan riset substantif sebagaimana telah dibicarakan pada bagian awal.

Dalam konteks ilmiah validitas konstruk I dan D kira kira sama. Kesamaan ini dapat dilihat dengan mempertimbangkan beberapa implikasi seperti yang dapat dilihat pada gambar 1. Dalam riset ilmiah, kita menteorikan dan memahami sama sekali pda tingkat konseptual. Sebagai contoh, kita menghipotesikan bahwa variasi dalam D merupakan fungsi dari variasi dalam I. Bila kita menguji hipotesis tersebut, kita perlu sekali menggunakan indikator atau ukuran empiris tertentu. Jika observasi dari I mendahului D dalam waktu kita dapat menggunakan prosedur validasi yang bersifat prediksi. Jika observasi tersebut diperoleh pada waktu yang sama prosedur tersebut disebut dengan istilah concurrent validation.

Perbedaan antara orientasi terapan dan ilmiah tidak ditentukan oleh pemilihan variabel dependen atau variabel bebas. Perbedaan tersebut ditentukan oleh pentingnya konstruk dependen dan independen yang relatif sifatnya.Orientasi terapan lebih menitikberatkan pada validitas konstruk dari variabel terikat. Orientasi ilmiah lebih menekankan pada pentingnya yang sama pada kedua konstruks tersebut.

MENILAI VALIDITAS KONSTRUK
Bagian ini berisi penjelasan singkat metode yang akan dipertimbangkan untuk menilai validitas konstruk dari ukuran atau manipulasi eksperimental. Isu yang digunakan disini adalah kompleks terutama karena variabel yang menjadi perhatian - konstruk-bisa tidak langsung dinilai secara empiris. Akibatnya, setiap pemeriksaan empiris dapat membuat hanya kesimpulan tidak langsung tanpa validitas konstruk.
Isu isu konseptual dalam validasi konstruks tersebut mencakup peran definisi dan peran teori. Kedua isu ini dijelaskan di bawah ini.

Peranan definisi
Masalah ambiguitas menjadi lebih dan lebih mendesak. Analisis semantik diperlukan untuk menjelaskan dan menyelesaikan beberapa macam ambiguitas dengan menyelidiki hubungan antara kemungkinan predikasi dan definisi konsep untuk memecahkan masalah penafsiran wacana bahasa alami
Peran Teori
Salah satu poin penting dalam penelitian ialah dasar teori yang digunakan dalam menjawab pertanyaan penelitian. Lalu apakah ‘teori’ itu? Apa yang tidak termasuk dalam teori? Apa saja contoh-contoh teori dalam penelitian? Untuk apa teori dalam penelitian? Teori adalah suatu kumpulan pernyataan yang secara bersama menggambarkan (describe) dan menjelaskan (explain) fenomena yang menjadi fokus penelitian.p erlu dipahami bahwa literature review, daftar pustaka, data penelitian, grafik, hasil penelitian sebelumnya, adalah bukan termasuk dalam definisi teori. Dalam konteks penelitian penjelasan (explanation), satu atau lebih teori dibutuhkan dalam penelitian. Penelitian penjelasan berkenaan dengan menguji atau memverifikasi teori atau menghasilkan teori, atau bisa keduanya. Sedangkan dalam penelitian deskriptif tidak dibutuhkan teori, karena penelitian hanya bertujuan untuk menggambarkan hal-hal yang menjadi fokus studi. Baik penelitian deskriptif atau explanation dibutuhkan dalam penelitian. Tidak ada yang lebih baik satu dibandingkan dengan lainnya. Lebih pada tujuan penelitian dan tingkat perkembangan penelitian dalam area penelitian terkait.
PERTANYAAN:
1. Uji Validitas dan Reliabilitas sering digunakan dalam sebuah penelitian, karena dalam setiap penelitian selalu terjadi proses pengumpulan data dan dalam proses pengumpulan data tersebut akan menggunakan satu atau beberapa metode. Bagaimana langkah-langkah melakukan uji validitas konstruks dalam perilaku organisasi tersebut?
2. Apa yang membedakan validitas empiris dengan validitas logis?

THE THEORY-SETTING-TESTABLE HYPOTHESIS MODEL: A FRAMEWORK TO ASSIST DOCTORAL STUDENTS IN LINKING THEORY AND EMPIRICAL RESEARCH oleh John E Swan and Warren S Martin

A. PENDAHULUAN

Artikel ini membahas nasalah pedoman bagi mahasiswa doktor yang ikut dalam pelatihan dalam bidang pemasaran. Tujuan mendasar dari pelatihan doktoral dalam bidang pemasaran adalah mempersiapkan mahasiswa untuk dapat melakukan penelitian yang orisinil yang dapat memberi kontribusi pada pengetahuan pemasaran , yaitu dapat memahami gejala-gejala teoritis dalam domain pemasaran. Mahasiswa harus dapat mengembangkan pemahaman teori pemasaran dan bagaimana teori tersebut dapat diuji dalam penelitian empirik. Artikel ini akan mencakup (1) masalah memperoleh ketrampilan dalam memadukan teori,model dan topik-topik penelitian,(2) Model tiga tahap, dan (3) dan bagaimana model tersebut digabungkan dalam suatu seminar doktor. Untuk mengatasi masalah mengenai bagaimana memperoleh ketrampilan dalam memadukan teori, model, dan topik penelitian, peneliti harus mengetahui akar permasalahan terlebih dahulu. Masalah ini lah yang akan menjembatani teori , topik penelitian dan model. Topik riset akan memadukan tiga komponen, yaitu (1) fenomena empirik, (2) penjelasan teoritis terhadap fenomena tersebut, dan (3) dan beberapa hipotesis yang berasal dari penjelasan teoritis tersebut. Tujuan dari artikel ini adalah menyajikan suatu model hipotesis yang berasal dari setting teori yang dapat diuji untuk menutup celah dan menyediakan pendidik dalam bidang pemasaran ide-ide yang diharapkan dapat memberikan manfaat dalam memecahkan masalah integrasi tersebut.

B. TINJAUAN KERANGKA THEORY SETTING-TEST UNTUK PENGEMBANGAN
HIPOTESIS

Pengembangan hipotesis yang dihubungkan dengan teori dapat dilakukan melalui tiga tahap, yaitu (1) teori dan prediksi, (2). Setting dan dalil, dan (3) Hipotesis dan pengukuran. Pertama , peneliti mereview literature teoritis dan penelitian sebelumnya untuk memperoleh serangkaian prediksi yang akan diuji secara empiris. Kedua, setting adalah visi, dimana peneliti dapat mengobservasi variabel dan proses.Ketiga pengukuran operasional adalah yang diperoleh untuk konsep dalam preposisi. Framework adalah rekonstruksi logis dari proses riset, tidak semua peneliti akan menggunakan serangkaian tahapan yang disajikan disini.

The T Step: Theoretical Statements and Prediction

Teori ini untuk membuktikan mengapa beberapa fenomena sebagai konsekuensi dari variabel independen. Sebagai tahap permulaan, mahasiswa dinasehati untuk mencari literature pada suatu topic yang menarik untuk pernyataan (statement) yang menghubungkan variabel independen dengan variaberl dependen.

Identification of Theoretical Statement

Untuk menggambarkan teori untuk proses prediksi, diasumsikan bahwa mahasiswa tertarik akan sales force turnover. Peneliti terdahulu menemukan bahwa jika job satisfaction menurun, turnover menurun (see table 1). Tetapi penelitian gagal untuk membedakan antara salesperson yang tidak puas dengan sales sebagai jabatan (occupation) dibandingkan dengan yang kurang puas dengan beberapa aspek sales job mereka. Teori menyarankan bahwa job satisfaction adalah komposisi dari 2 komponen: (1) intrinsic saticfaction dengan self-bestowed reward dari pekerjaannya dan (2) extrinsic satisfaction dengan externally bestowed reward, seperti gaji dan benefits lain (Churchill, Ford dan Walker 1974). Alasannya bahwa kepuasan secara intrinsic karyawan yang kurang puas dengan extrinsic reward akan mencari employment lain dalam penjualan. Disisi yang lain, ketidakpuasan secara intrinsic karyawan akan mencoba untuk mengubah jabatan. Menurut pernyataan teoritis akan diturunkan: jika pekerja secara intriksik puas, seperti job satisfaction extrinsic menurun (X), pekerja yang mencari pekerjaan lain dalam jabatan yang sama akan meningkat (Y).

Component of the Theoretical Statement

Pengenalan ketiga komponen pernyataan teoritis, yaitu: Pertama, konsep. Kedua bentuk hubungan, sebagai contoh, kepuasan ekstrinsik menurun, kemungkinan mencari pekerjaan lain meningkat. Ketiga, keterkaitan teoritis – mengapa konsep diposisikan untuk terkait.
Formasi konsep adalah tugas yang sulit karena konsep yang ideal akan merupakan konsep yang universal, dapat diaplikasikan untuk setiap situasi (Isugweb 1989). Konsep teoritis membuka perbedaan definisi operasional yang dapat digunakan untuk mengukur konsep. Explisit teoritikal definisi konsep adalah kebutuhan untuk menyampaikan arti dan pengukuran fasilitas (Hag 1972). Penulisan definisi teoritis adalah alat penting untuk menghubungkan teori dan hipotesis. Sebagai dasar, ukuran konsep dalam hipotesis merupakan bagian dari domain konsep dan spesifikasi domain yang merupakan tahapan awal dalam memperoleh ukuran yang valid dan reliable (Churchill 1979). Alasan lain untuk mengembangkan difinisi teoritis explicit adalah modifikasi dalam definisi data, yang mendorong hipotesis baru dan peluang penelitian. Element penting dari teori adalah serangkaian pernyataan yang membentuk teori mesti terkait secara sistematis. Penggunaan proses untuk mencocokkan antar hubungan antara pernyataan merupakan formalisasi parsial (Hunt, 1991). Hipotesis riset adalah pernyataan prediksi yang mana konsep proposisi ditempatkan dengan difinisi operasional dan keterkaitan operasional dengan uji statistic. Pertanyaan difinisi operasional dan uji statistic melibatkan beberapa isu. Difokuskan pada uji logical dari definisi operasional dan keterkaitan antara konsep. Bentuk hubungan (misalnya: linear, power curve), difinisi operasional menentukan uji statistic (Hage, 1972; Hunt 1991). Pernyataan bahwa setting empiris untuk pernyataan teoritikal dan proposisi dibatasi oleh bridge laws dan serve untuk menyelesaikan gap antara tingkat pernyataan teoritikal dengan difinisi theoritikal dan setting fenomena spesifik, yang diekspresikan dalam hipotesis riset (Hunt, 1991). Bridge laws juga membatasi guiding hypotheses atau asumsi. Setting dan konsep proposisi tahap pengukuran operasional melibatkan serial bridge laws. Uji logical definisi operasional merupakan homology dengan konsep proposisi, yang sesuai dengan definisi proposisi dari konsep dan membandingkan dengan difinisi operasional (Dubin 1978).

PERTANYAAN :
1. Masalah penelitian merupakan suatu pondasi dalam melakukan suatu penelitian. Singkatnya, masalah penelitian adalah adanya gap atau kesenjangan antara harapan dengan kenyataan, teori dengan praktek, yang seharusnya dengan yang terjadi. Bagaimana langkah-langkah dalam menentukan pondasi dalam menentukan topik penelitian?
2. Masalah penelitian akan menentukan keberhasilan dari suatu penelitian. Ada seorang pakar penelitian yang menyatakan bahwa ”Ketika seorang peneliti sudah berhasil memformulasikan (baca: ”menemukan”) masalah penelitian, maka sebenarnya 50% penelitian tersebut sudah

The role played by Frederick Taylor in the rise of the academic management fields Hindy Lauer Schachter

Abstrak
Tujuan
Tujuan dari makalah ini adalah untuk menganalisis bagaimana pencapaian Frederick Taylor sebagai pencetus ilmu pekerjaan memberikan landasan teoritis untuk akademik generasi pertama manajemen program di era Progresif. Makalah ini bertujuan untuk menunjukkan implikasi dari pertandingan ini untuk Terus posisi tinggi Taylor dalam sejarah manajemen berpikir.
Desain/metodologi/pendekatan
Suatu metodologi yang digunakan melibatkan analisis diterbitkan dan tidak dipublikasikan historis sumber termasuk bekerja sendiri Taylor, tulisan dari orang sezamannya, dan tulisan-tulisan dari tokoh-tokoh kunci dalam program generasi pertama universitas publik dan bisnis-manajemen.
Temuan
Makalah ini memberikan bukti dampak dari pekerjaan Taylor tentang manajemen pendidikan di Progresif jaman dan implikasi dari dampak untuk reputasi Taylor dan manajemen program sendiri.
Orisinalitas/nilai
Analisis ini menggunakan berbagai macam sumber dipublikasikan dan tidak dipublikasikan. Ini membandingkan perkembangan pendidikan di masyarakat dan bidang manajemen bisnis yang umumnya dianalisis dalam literatur terpisah.

Pengantar
Frederick Winslow Taylor (1856-1915) peringkat pertama di antara pelopor sejarah dari lapangan tersebut dan Hay (1977) survei sejarawan manajemen. Waldo (1948) berpendapat bahwa Ide Taylor adalah pengaruh utama dalam pembentukan pemikiran manajemen publik. Tujuan dari makalah ini adalah untuk membuktikan prestasi Taylor sebagai nenek moyang dari ilmu pekerjaan baik dalam ruang publik atau swasta. Komitmennya pada terbentuknya sebuah ilmu pekerjaan yang dipimpin langsung untuk membangun profesi manajemen meskipun masa jabatannya di puncak pemikiran manajemen selalu menimbulkan kontroversi.
Apa yang menarik dalam perdebatan kontemporer adalah bahwa Taylor masih menghasut pertentangan begitu banyak tahun setelah kematiannya. Pada akhir 1800-an, dia adalah salah satu dari beberapa orang yang makalah dipresentasikan pada American Society of Mechanical Engineers (ASME) pada pertemuan cara menggunakan upah insentif untuk memotivasi tenaga kerja. Hanya sedikit, jika ada, orang hari ini mempertimbangkan manfaat atau disfungsi dari gagasan yang dikembangkan dalam presentasi lain - Partridge (1887), Towne (1888), atau Halsey (1891). Namun, reputasi Taylor bertahan dalam akademik literatur manajemen, kurikulum manajemen sarjana, dan di populer imajinasi. Artikel tentang karyanya telah muncul dalam jurnal manajemen umum (Hough dan White, 2001; Wagner-Tsukamoto, 2007; Wrege dan Perroni, 1974; Wrege dan Stotka, 1978) maupun yang dikhususkan untuk sejarah manajemen (Wagner-Tsukamoto, 2008). Dia juga dikreditkan dalam literatur akademik untuk menetapkan dasar dari mananya "Mahasiswa" seperti Frank dan Lillian Gilbreth diluncurkan ke manajemen toko baru dan menyegarkan arah (Mousa dan Lemak, 2009).
Dia menawarkan manajemen sebagai profesi - apa Larson (1977) menyebut karir berpusat pada tubuh pengetahuan - bukan suatu perusahaan tergantung untuk sukses di keberuntungan atau kepribadian yang kuat. Untuk melihat bagaimana Taylor datang dengan ide-idenya dan berusaha untuk mempublikasikannya, artikel itu menawarkan biografi singkat. Kemudian menganalisis fungsi yang Taylor ilmiah manajemen melayani selama program universitas yang sedang berkembang dalam ilmu sosial, administrasi publik, dan bisnis manajemen, dan bagaimana aliansi antara program-program universitas dan manajemen toko Taylor terkena kedua entitas. Tujuannya adalah untuk menunjukkan peran apa Ide Frederick Taylor bermain sebagai salah satu masukan ke dalam munculnya manajemen akademik
bidang.
Awal biografi
Frederick Winslow Taylor lahir dalam keluarga kaya di Philadelphia 1856. Setelah lulus Philips Exeter, ia memutuskan untuk menjadi magang di Enterprise Hidrolik Bekerja meskipun ia telah melewati ujian masuk untuk Universitas Harvard. Selanjutnya, ia bekerja sebagai pekerja harian dan pengawas di Perusahaan Baja Midvale, dan sebagai general manager dari Perusahaan Investasi Manufaktur (produk kertas perusahaan), dan mencoba untuk meningkatkan produktivitas di kedua perusahaan. Ketika ia menemui kesulitan-kesulitan memotivasi para pekerja, ia mulai percaya bahwa manajer tidak memiliki informasi yang mereka perlu untuk mendapatkan pekerjaan mereka selesai. Wawasan ini membuatnya mencoba untuk meningkatkan informasi tersedia bagi manajer melalui studi waktu, yaitu operasi waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan individu pabrik tugas. Dia menjadi yakin bahwa waktu dan gerak eksperimen berbasis bisa mengajarkan manajer metode produksi yang lebih efisien. Mereka akan belajar kapan dan cara mengganti alat atau bahan untuk mendapatkan output yang lebih besar, dan bahwa mereka kemudian dapat menggunakan ini pengetahuan untuk pekerja kereta api (Taylor, 1947a, b).
Kunci pendekatan baru adalah menempatkan tanggung jawab baru pada manajer bahu, mereka harus belajar metode yang lebih efisien sehingga mereka bisa melatih pekerja dan memberikan umpan balik yang memadai terhadap kinerja. Jenis informasi yang dibutuhkan manajer berkisar dari, murni teknis misalnya kecepatan terbaik untuk menjalankan alat mesin untuk memotong logam, ke psikologis, misalnya memahami dampak kelelahan karyawan. Sebagai ekonom Commons (1934) telah mencatat informasi yang diperlukan pendekatan Taylor pada peningkatan manusia kapasitas dan mendorong kemauan lebih besar di antara karyawan. Pendekatan menekankan pentingnya pengukuran kerja.
Umpan balik yang memadai diperlukan pengawasan fungsional. Dalam skema Taylor, masing-masing pekerja memiliki bos geng untuk mengawasi menempatkan material pada mesin, bos kecepatan untuk operasi mesin itu sendiri, atasan perbaikan yang merawat peralatan, dan inspektur yang memeriksa kualitas. Ketika manajemen toko berhasil, manajer dan pekerja bekerjasama satu sama lain karena kedua belah pihak melihat bahwa mereka dapat memperoleh melalui peningkatan produksi.
Untuk berbagi pendekatan ini Taylor menjadi seorang insinyur konsultasi pada tahun 1893. Segera kliennya termasuk Perusahaan Simmonds Mesin Sarana di Massachusetts serta Kram Kapal dan Perusahaan Mesin Bangunan dan Perusahaan Bethlehem Steel di Pennsylvania antara perusahaan-perusahaan lainnya. Wawasan, ia mendapatkan konsultasi muncul di 1895 kertas ASME dan 1903 buku, Toko Pengelolaan di mana ia menekankan pentingnya perencanaan fungsi, termasuk peresmian departemen perencanaan, dan peningkatan vertikal komunikasi dan umpan balik (Taylor, 1947a).


Ilmiah pengelolaan
Ide Taylor menerima publisitas intens pada tahun 1910 setelah timur rel kereta api dari
Mississippi mengajukan petisi kepada Interstate Commerce Commission (ICC) izin untuk menaikkan tarif mereka. Progresif pengacara Louis Brandeis, konsultan tidak dibayar untuk Perdagangan Asosiasi pesisir Atlantik, berpendapat bahwa ICC harus menolak kereta api meminta dengan alasan bahwa perusahaan kereta api tidak perlu biaya lebih banyak jika mereka mengadopsi ide-ide Taylor untuk meningkatkan produktivitas mereka (Savino, 2009). Di antara yang paling nikmat abadi, Brandeis itu Taylor label gagasannya sebagai "ilmiah" daripada "Toko" manajemen - sebuah frase yang langsung tertangkap (1947b) mewah sendiri Taylor dan yang digunakan dalam judul buku berikutnya, Prinsip dari Ilmiah Manajemen.
Sebutan baru menyoroti sifat eksperimen berbasis pendekatan Taylor, maksud untuk menemukan prinsip-prinsip luas yang dapat digunakan untuk meningkatkan produktivitas. Seperti Taylor (1912, hal. 36) kemudian menjelaskan, "ada cara terbaik dalam melakukan segala sesuatu, dan bahwa [...] cara terbaik selalu dapat dirumuskan menjadi aturan-aturan tertentu. "Ketika pembuatan peraturan tersebut dilakukan," Anda bisa mendapatkan pengetahuan Anda jauh dari pengetahuan kacau lama aturan-of-thumb ke diselenggarakan pengetahuan. " Antara 1901 dan 1915, rekan Taylor memperkenalkan setidaknya beberapa bagian dari ide-idenya menjadi sedikitnya 200 perusahaan Amerika (Nelson, 1992a).
Kedua, beberapa insinyur efisiensi meminjam aspek dari sistem Taylor, terutama waktu
belajar, tanpa menerima kebutuhan untuk mendorong kerja sama antara manajer dan pekerja - dengan memberikan kedua belah pihak keuntungan dari setiap peningkatan produktivitas. Selama periode ini, Taylor memisahkan diri dari pekerjaan konsultan efisiensi seperti Harrington Emerson yang menggunakan waktu belajar sebagai sarana untuk penurunan suku bunga lembaga (Nelson, 1992a). Taylor (1910) mengatakan asosiasi, Morris Cooke, bahwa Emerson dan sejenisnya sekitar yang terburuk hal yang bisa terjadi untuk berbelanja manajemen.
Pada tahun 1911, upaya, gagal otoriter untuk menggunakan bagian dari sistem Taylor untuk menata kembali bekerja di gudang Watertown menyebabkan pemogokan oleh pekerja pengecoran (Aitken, 1960). Asosiasi Internasional teknisi segera meminta Kongres untuk menyelidiki penggunaan metode waktu belajar Taylor dalam organisasi publik. William Wilson, kursi Ketenagakerjaan Gedung Komite - dan Serikat Pekerja Tambang mantan pejabat – membentuk menyelidiki komisi. Satu set dengar pendapat pun terjadi yang berlangsung dari Oktober 1911 sampai Februari 1912. Taylor (1947c) memberikan lebih dari 12 jam kesaksian kepada Kongres komite.
Forum ini memberikan papan terdengar sangat baik untuk mengesankan opini publik. Dalam kesaksiannya, dia menempatkan manajemen kerja kerjasama di jantungnya metodologi. Manajemen ilmiah, jelasnya bukan perangkat efisiensi tetapi bukan pergeseran mental bagi pengusaha dan karyawan di mana mereka berhenti mengkhawatirkan membagi surplus dan bekerja sama bukan untuk membuat surplus yang tumbuh. Dia berargumen bahwa pemimpin buruh menentang karyanya karena mereka telah terluka oleh manajer yang menggunakan waktu belajar untuk menurunkan suku - praktek dia menentang.
Komite ini menyimpulkan bahwa bukti tidak ada yang ilmiah manajemen terluka pekerja dan diizinkan penggunaannya dalam fasilitas pemerintah. Namun, cerita itu tidak berakhir di sana. Selanjutnya, Perwakilan Frederick Dietrick, dari Watertown Arsenal kabupaten, menempatkan pengendara pada 1914 Angkatan Darat dan Angkatan Laut Alokasi Bill menghentikan waktu dan gerak penelitian di gudang senjata. Dengan demikian, teknik Taylor datang untuk disamakan dengan beberapa orang dengan sikap terkemuka dan anti-buruh otoriter (Schachter, 1989). Frederick Taylor meninggal karena pneumonia pada tahun 1915 meninggalkan pengikutnya untuk membenarkan ide-idenya termasuk pentingnya studi manajemen.

Taylor dan universitas
Semua mayat pengetahuan khusus dipengaruhi oleh konteks sosial di mana mereka diproduksi (Mulkay, 1972). Kerja Taylor bertepatan waktu dengan perluasan atas perguruan tinggi pendidikan dan seiring upaya untuk memperbesar semesta pekerjaan
diberikan status profesional atau semi-profesional. Sementara pendaftaran ke perguruan tinggi Amerika pada dasarnya statis 1820-1880, tumbuh sebesar 20 persen di perguruan tinggi swasta Timur dan 32 persen di lembaga negara antara 1885 dan 1895. Perluasan ini mencakup pengenalan lebih siswa kelas menengah yang datang ke perguruan tinggi bukan hanya untuk memperoleh belajar demi belajar, tetapi yang ingin memperoleh pengetahuan yang bisa mereka gunakan di selanjutnya kerja (Larson, 1977). Pada pergantian perguruan tinggi abad kedua puluh, itu kembali mengorganisir untuk mengakomodasi siswa (Nichols, 1912).
Para pemimpin di bidang ilmu politik dan ekonomi bersekutu dengan perkotaan reformis yang ingin memprofesionalkan kerja pemerintah. Bahkan, salah satu sejarawan memiliki berpendapat bahwa tujuan utama dari gerakan ilmu sosial adalah mendirikan sipil layanan sistem (Sass, 1982).
Para reformator adalah menerima panggilan Taylor dari sebuah karya ilmu pengetahuan karena mereka melihatnya sebagai penangkal mungkin untuk inefisiensi pemerintah kota dan kurangnya tanggap terhadap kebutuhan masyarakat. Di bawah disandang gagasan mereka bahwa kebaikan bukan dari koneksi politik harus menjadi voucher pintu masuk untuk pekerjaan umum. Dalam 15 tahun pertama abad kedua puluh, universitas elit utama belum menawarkan baik sarjana atau pascasarjana profesional program administrasi publik meskipun Politik Amerika Asosiasi Ilmu membantu mendanai Masyarakat untuk Promosi Pelatihan untuk Kantor Publik yang berkampanye untuk penawaran efek tersebut (Schachter, 2007). The New York Biro Sekolah Pelatihan Penelitian Kota didirikan pada tahun 1911 adalah program pertama yang didedikasikan khusus untuk mendidik masyarakat pelayan. Mahasiswa adalah lulusan perguruan tinggi dan beberapa memiliki gelar tinggi. Itu Program memiliki hubungan dengan manajemen ilmiah dan menggunakan buku Taylor sebagai bagian dari kurikulum (Dahlberg, 1966). Taylor datang untuk berbicara dengan mahasiswa dan staf beberapa kali seperti yang dilakukan Henry Gantt, rekannya dari hari-hari konsultasi di pabrik Simonds dan Bethlehem Steel (Van riper, 1995). Salah satu eksekutif sekolah, Frederick Cleveland memuji pentingnya manajemen ilmiah karena dua alasan. Pertama, akan menunjukkan pejabat sektor publik bagaimana menggunakan informasi untuk rencana; Cleveland (1912, hal 331.) menubuatkan bahwa dengan alat baru ini "kita harus mempunyai perencanaan eksekutif serta perencanaan legislatif "Kedua., akan meningkatkan demokrasi dengan menunjukkan warga bagaimana mengambil baru peran dalam politik, satu kali mereka memiliki informasi, mereka bisa membandingkan efisiensi yang berbeda pendekatan ke polisi atau pekerjaan jalan paving. Stone dan Stone (1975) sejarah awal administrasi publik pendidikan memuji Taylor sebagai pendiri dari lapangan karenanya penekanan pada menggunakan analisis daripada intuisi untuk memecahkan masalah organisasi dan stres pada pelatihan-hati karyawan. Ketika universitas-universitas mulai menawarkan publik program administrasi setelah Perang Dunia I, kurikulum mereka dipertahankan penekanan pada manajemen ilmiah (Schachter, 2007).

SEKOLAH BISINIS
Aspek lain dari re-organisasi yang terlibat atau perluasan penciptaan tingkat universitas bisnis sekolah. Pada tahun 1897, Amerika memiliki satu tingkat perguruan tinggi sekolah bisnis – Wharton School di University of Pennsylvania. Kurikulumnya itu didominasi terdiri program di bidang ekonomi diterapkan, akuntansi, dan hukum bisnis (Hotchkiss, 1918). Tahun 1917, negara membual program bisnis 30 (Sass, 1982). Ini bisnis baru dibuat sekolah juga menerima pendekatan Taylor. Mereka melihat manajemen ilmiah sebagai pinjaman kehormatan untuk bidang mereka yang memiliki setidaknya dua set pencela kuat.
Banyak rekan liberal mereka dilindungi seni kurikulum sekolah bisnis seperti perdagangan kerja, mirip dengan materi yang diajarkan di sekolah sekretaris. Pada, para pemimpin bisnis yang sama berpendapat bahwa keberhasilan dalam bisnis tidak bisa diajarkan melainkan harus dipelajari dalam lapangan (Marshall, 1913). Ide Taylor dari ilmu pekerjaan membantu mengatasi kedua keberatan.
Ini mengemukakan bahwa manajemen adalah disiplin yang ketat secara teoritis yang memulai bisa belajar dan kemudian digunakan untuk pengembangan komersial lebih lanjut. Sebagai Donham (1952, hal. 11) mencatat, bisnis administrasi fakultas yang selalu berkomitmen "untuk tesis bahwa bisnis administrasi harus diperlakukan sebagai sebuah profesi. "Tapi, sebelum bisa menjadi profesi di liga hukum, pelayanan, atau kedokteran, pendidikan bisnis membutuhkan sastra dan isi prinsip, manajemen ilmiah Taylor diberikan baik syarat (Donham, 1921).
Di bidang bisnis, sekolah elit yang dipimpin muatan dalam menempatkan manajemen toko di kurikulum. Pada tahun 1908, Edwin Gay, dekan pertama dari Harvard School University Bisnis, harus memutuskan apa yang akan diajarkan dalam kurikulum bisnis dan bagaimana mengajarkannya (Donham dan Foster, 1930). Sebuah keputusan awal adalah untuk mengundang Taylor dan rekannya, Carl Barth, untuk memberikan serangkaian kuliah kepada mahasiswa sebagai bagian dari kursus Gay mengajar pada organisasi industri. Pada awalnya Taylor keberatan, ia percaya bahwa pabrik itu tempat terbaik untuk belajar manajemen toko karena dalam "Para pekerja estimasi-nya hanya dapat dipelajari berdampingan dan bahu-membahu "(Taylor, 1909, hal. 86).
Butuh ketekunan dan komunikasi persuasif pada bagian Gay untuk mendapatkan Taylor untuk menerima proposisi (Copeland, 1958). Pada bulan Mei 1908, Gay dan Wallace Sabine, dekan Graduate School Harvard Sains Terapan, pergi ke Boxley, Taylor Pennsylvania rumah, untuk menekan perjuangan mereka. Taylor pada awalnya menolak tapi akhirnya memberikan penerimaan dendam dengan permintaan tamunya (Cruikshank, 1987). Sebuah surat setelah acara Gay, bagaimanapun, bahwa ia masih memiliki keraguan hingga akhir 1913 tentang manfaat kursus perguruan tinggi pada manajemen ilmiah karena ia menganggap bahwa "satu masalah dengan pria yang memiliki telah pendidikan akademik yang sangat luas adalah bahwa ia gagal untuk melihat yang baik datang kepadanya dari bekerja terus selama seorang pekerja "(Taylor, 1913). Sebuah biografi Taylor mengatakan bahwa Gay membujuknya untuk kuliah dengan mengancam untuk memberikan kursus pada sistem Taylor dengan atau tanpa pendirinya - tahu benar bahwa Taylor tidak ingin melihat orang lain menggambarkan ide-idenya (Copley, 1923, hal. 290). Biografi Gay menyebutnya rabun dekat tindakan pada bagian Gay "yang menjerat dari Frederick Winslow Taylor dan kelompok kecil tentang asosiasi "(Heaton, 1952, hal 72.).
Pengenalan metodologi manajemen ilmiah terbukti sukses, Taylor mendapat sambutan positif. Seorang anggota fakultas Harvard mencatat bahwa kuliah adalah populer karena "tampaknya memberikan sesuatu dari formula untuk manajemen," fondasi ilmiah untuk lapangan (Copeland, 1958, hal. 26). Gay diulang undangan pada tahun 1909 dan Taylor kembali ke Harvard setiap tahun sampai ia meninggal. Sementara, Taylor berada di Harvard, anggota fakultas Gay dan lain duduk malam dengan dia di Colonial Harvard Klub mendiskusikan bagaimana manajemen ilmiah bisa menghasilkan bisnis fundamental prinsip (Hanford, 1954).
Clarence B. Thompson, rekan Taylor, juga diajarkan di sekolah bisnis. Dia menghasilkan buku dan artikel yang membantu mengembangkan literatur ilmiah yang mendasari untuk lapangan (Thompson, 1913, 1914). Arch Shaw, penerbit Chicago yang pernah belajar Metode Taylor, mengambil cuti dari bisnis dan datang untuk mengajar di Harvard pada tahun 1910 (Manset, 1996). Dia berargumen bahwa pekerjaan Taylor "menandai awal masa kini gerakan untuk membentuk manajemen industri sebagai subjek profesi hukum ilmiah "(Shaw, 1914, hal. 217). Ia mengembangkan buku teks didasarkan pada studinya bahan Harvard yang menyebut premi pada efisiensi ditemukan dengan menggunakan metode Taylor "putus-putusnya dan mutlak" (Shaw, 1916, hal. 73). Catatan teks yang sekolah bisnis Harvard menggunakan ide Taylor untuk menganalisis organisasi di seluruh dunia dan untuk mengidentifikasi metode-metode yang dicapai hasil yang menguntungkan (hal. 223).

Pada 1914-1915, sekolah menawarkan kursus khusus berjudul "Sistem Taylor dari Manajemen "Ketika profesor skeptis di luar sekolah bisnis, bertanya jika Gay. manajemen bisa menjadi sebuah profesi, dekan mengirim mereka bekerja Taylor untuk membuktikan titik (Cruikshank, 1987). Pada bulan Oktober 1919, ketika Society Taylor mengadakan pertemuan tahunan bawah Harvard Business Graduate kehadiran Universitas naungan Sekolah melampaui bahwa dari pertemuan sebelumnya organisasi (Braverman, 1919). Morris Cooke, salah satu rekan Taylor terdekat, mengajar di Universitas Dartmouth Tuck School of Administrasi dan Keuangan yang menawarkan kursus dalam ilmiah manajemen termasuk waktu dan gerak laboratorium penelitian, dan kerja lapangan di pabrik menerapkan prinsip Taylor (Aitken, 1913). Orang (1907), direktur sekolah, percaya bahwa Amerika perlu meningkatkan pendidikan bisnisnya jika negara ingin bersaing di puncak dalam perdagangan internasional. Dia membujuk Cooke untuk mengembangkan ilmiah manajemen konferensi untuk sekolah di mana Taylor bicara; konferensi menarik lebih dari 300 peserta termasuk eksekutif bisnis dan pendidik di depan umum dan administrasi bisnis (Nelson, 1992b). Kegiatan ini memimpin sebuah studi Carnegie Corporation untuk dicatat bahwa "Tuck Sekolah mungkin pergi lebih jauh dari lembaga lain dalam sebelum perang periode dalam menempatkan pekerjaannya pada tingkat intelektual menuntut "(Pierson dan Lainnya, 1959).

Setelah tahun 1915, sekolah bisnis profesor bergabung dengan Masyarakat Taylor di yang cukup besar nomor untuk membangun karakternya sebagai pos terdepan, progresif avant-garde usaha pikir. Seperti Taylor Masyarakat presiden pada tahun 1917, Person (1917, hal. 6) mencatat bahwa ilmiah manajemen yang diperlukan titik profesor pandang bersama bahwa manajer dan pekerja. Nilai profesor 'terletak pada keahlian mereka dalam kemajuan industri dan mereka kemampuan untuk memeriksa organisasi dari luar yang "suatu prinsip yang baik penyelidikan dan penilaian. "Pada tahun 1991, Orang meninggalkan akademisi untuk menjadi yang pertama dibayar direktur untuk Masyarakat Taylor. Pada tahun 1920, ia membantu untuk menarik dosen untuk organisasi yang analisis isu-isu perburuhan dan tenaga membantu mematikan diselenggarakan buruh oposisi terhadap manajemen ilmiah (Nelson, 1992b).

Ilmiah pengelolaan di itu bisnis sekolah lingkungan
Kerja Taylor masuk kurikulum seperti perguruan tinggi pendidikan menjadi prasyarat untuk keberhasilan manajerial dan profesional. Itu adalah pernikahan dengan keuntungan untuk kedua belah pihak. Manajemen toko memberikan kelas bisnis prinsip-prinsip dasar yang berbasis meskipun bahkan setelah perdebatan diperkenalkan terus mengenai apakah pendidikan bisnis memiliki basis yang jelas teoritis (Pierson dan Lainnya, 1959). Universitas di lingkungan gilirannya memberikan strategi penting untuk menyebarkan pesan Taylor dengan cara yang tidak akan mungkin terjadi jika inovasi-nya tetap di pabrik yang dia sampaikan awalnya diusulkan. Tokoh profesor seperti Marshall (1921) di University of Chicago atau Lansburgh (1923) di University of Pennsylvania menulis artikel dan buku yang dipublikasikan ide-idenya. Siswa yang belajar tentang ide-idenya di kelas digunakan wawasannya sepanjang karier mereka. Hotchkiss (1918, hal. 65), direktur pendidikan bisnis di University of Minnesota selama Perang Dunia I dan dekan Sekolah Bisnis Stanford setelah 1925, dipahami tren ketika ia mencatat bahwa: [...] Dalam jangka menjalankan pengaruh paling permanen, sehingga untuk perpanjangan ilmiah metode dalam bisnis telah sudut pandang baru dari universitas yang telah mendekati tugas mendidik orang untuk bisnis. Tempat akademis pasca-Taylor ilmiah manajemen dipengaruhi presentasinya.
Buku Taylor terkandung petunjuk bahwa ilmu pekerjaan hanya dapat memberikan jawaban sementara pada waktu tertentu bahwa prosedur yang tampaknya cara terbaik Senin bisa jatuh ke prosedur yang lebih baik setelah saran lebih lanjut dan percobaan pada Selasa (Taylor 1947b, hal. 128). Spesialis manajemen akademik lebih lanjut menekankan ini sementara sifat temuan manajemen toko. Sebagai Orang Dartmouth (1912, hal. 7) mencatat, "dalam derivasi hukum tidak ada asumsi finalitas [...] selalu ada probabilitas penemuan penting lebih lanjut dari undang-undang baru, dan observasi dan eksperimen tidak berhenti "Harvard Donham (1952). berpendapat bahwa Anda harus terus meningkatkan setiap intelektual kerangka. Sikap ini dianggap suatu kebutuhan oleh bisnis untuk luar peneliti untuk memasukkan tanaman dan melakukan percobaan. Ini diasumsikan raison jangka panjang d'etre untuk sebuah perusahaan manajemen akademik yang akan memiliki loyalitas utama untuk analisis bukan tradisi dari setiap perusahaan tertentu.
Akhirnya, stres pada sifat sementara pengetahuan itu memiliki negatif tertentu implikasi untuk tempat Taylor dalam kanon universitas. Jika pengetahuan terakumulasi lebih waktu dan pemahaman kita tentang fenomena sosial membaik, maka dalam setiap ilmiah perusahaan, kemudian formulasi harus melampaui ide awal. Sebagai contoh awal
manajemen berpikir, ide Taylor menjadi foil dalam beberapa tulisan akademis untuk kemudian analisis tentang cara memotivasi pekerja dan meningkatkan efisiensi (Ramos, 1972; Scott dan Hart, 1973). Dalam beberapa kasus, sebuah konsekuensi yang tidak diinginkan telah bahwa kontemporer literatur akademis kurang menghargai lingkup Taylor karena tanggal komposisi. Boddewyn (1961) mencatat bahwa laporan banyak karya bahwa Taylor tidak menganalisis hubungan pekerja kelompok meskipun karya-karyanya benar-benar berisi contoh peran kelompok bermain dalam hasil produktivitas. Nyland (1995) mencatat para penulis yang terkadang kesalahan Taylor untuk tidak mengakui pentingnya jam pemendekan untuk melawan pekerja kelelahan dan yang berpendapat bahwa gagasan jam kerja lebih pendek berasal dari nanti.
Bahkan, tulisan Taylor penuh dengan percobaan yang menunjukkan dampak positif jam lebih pendek dapat memiliki output. Meskipun tidak akurat, kritik terhadap Taylor tidak menyadari pentingnya jam pendek memvalidasi anggapan bahwa nanti manajemen teori lebih manusiawi dan holistik daripada yang sebelumnya dan oleh karena itu manajemen pemikiran mendekati sebuah kontinum ilmiah yang lebih akurat.
Pertanyaannya bisa ditanyakan: bagaimana profesor manajemen mengubah pedagogi mereka sehingga gambaran yang lebih akurat dari Taylor muncul untuk generasi mendatang dan karyanya adalah tidak adil direndahkan hanya untuk memiliki tanggal publikasi awal? Jawaban paling mudah akan meminta siswa untuk membaca secara luas dalam karya Taylor bukan hanya belajar tentang dia dari sumber sekunder. Mengingat kendala waktu pada mahasiswa dan berlatih manajer solusi ini tidak mungkin diterapkan secara luas. Pendekatan kedua kemudian adalah untuk lebih menekankan pada tingkat universitas kursus tentang sejarah manajemen.

Evolusi dari Pengelolaan Pemikiran
Menyimpulkan bahwa Taylor memiliki pendekatan sistematis untuk manajemen dan filosofis kerangka yang tidak mengabaikan unsur manusia.

Kesimpulan
Makalah ini menunjukkan beberapa pekerjaan dampak Taylor telah di munculnya manajemen pendidikan. Pada hari Taylor, gagasan tentang ilmu pekerjaan aneh, seperti Halsey (1891, hal. 886) mencatat di ASME, bisa membawa "bahaya kesalahan mahal penghakiman." Hari ini, di sisi lain, asumsi dominan adalah kurangnya analisis lebih mungkin dikenakan kesalahan mahal. Setidaknya sebagian karena pengaruh Taylor, yang ide bahwa seseorang dapat mempelajari organisasi dan manajemen, dan dengan demikian membuat lebih baik praktis keputusan adalah kebijaksanaan diakui. Bisnis program administrasi yang penting persembahan di hampir setiap universitas; beberapa orang berdebat lagi apakah hal ini termasuk dalam kurikulum perguruan tinggi. Pergeseran ini tidak berarti bahwa profesionalisasi manajemen belum tanpa kontroversi bahkan di akademi itu sendiri. Perdebatan mengenai profesionalisasi manajemen terus dalam hal peran intuisi dalam manajemen, dan dampak profesionalisasi pada pelibatan masyarakat dan keterwakilan. Apakah professionalizing
manajemen mengubahnya menjadi suatu perusahaan elit menutup pintu pada orang-orang bisa memiliki menjadi manajer dalam suatu skema yang berbeda atau paradoks apakah itu benar-benar memungkinkan baru kelompok untuk masuk? Tapi saat ini paling intensif dan produktif perdebatan seperti mengambil tempat antara orang dengan PhD manajemen - bukan antara insinyur di ASME konvensi. Sebagai salah satu orang yang bertanggung jawab untuk ini perubahan tempat perdebatan dan sebagai progenitor dari ide bahwa semua pekerjaan layak studi, Taylor telah meninggalkan beberapanya jejak pada lanskap dari manajemen berpikir.

The Hawthorne legacy: A reassessment of the impact of the Hawthorne studies on management scholarship, 1930-1958. Jeffrey Muldoon, Journal of Management History, Vol. 18 No. 1, 2012, pp. 105-119.

Abstrak
Tujuan - Makalah ini berusaha untuk menganalisis kontribusi studi Hawthorne terhadap disiplin ilmu manajemen. Kecenderungan ilmiah terakhir telah menyerang studi Hawthorne atas dasar metodologi dan orisinalitas. Namun, satu-satunya cara untuk secara akurat melihat studi Hawthorne adalah untuk menciptakan lingkungan intelektual di mana penelitian dilakukan. Mengapa versi hubungan manusia dari Dennison atau Williams muncul sebagai kontribusi ilmiah?
Desain/metodologi/pendekatan - Penelitian dilakukan menggunakan sumber primer dan sekunder. Fokusnya adalah dari periode waktu 1930-1958.
Temuan - Pakar kontemporer melihat Hawthorne sebagai lebih menyeluruh dan lengkap dari kerja sebelumnya. Mereka juga menyaksikan penelitian sebagai kontribusi dalam beberapa masalah metodologis dan bias politik.
Implikasi Praktis - Melakukan analisis temporal yang memungkinkan kekuatan dan kelemahan yang dirasakan karya ilmiah menjadi lebih jelas.
Orisinalitas/nilai - akun sebelumnya dari studi Hawthorne sebagian besar telah mempelajari dampaknya terhadap praktisi. Penelitian ini menguji dampak pada pakar.

Pengenalan
Studi Hawthorne (1924-1932) adalah yang paling terkenal dari semua penelitian manajemen tetapi juga yang paling dikritik (Bedeian dan Wren, 2001). Kecenderungan terakhir telah menyerang kedua kekurangan metodologis studi dan orisinalitas. Tren ini tidak mengejutkan para pakar, sebagai studi lebih orisinal dan penting, semakin besar kemungkinan bahwa penelitian akan dikritik, terutama dengan berjalannya waktu (Sonnenfeld, 1985). Menurut Sonnenfeld, kritik sering datang karena baik para pakar yang lebih muda berharap untuk mendapatkan ketenaran dengan menyerang studi atau karena sang pencipta tidak lagi di sekitar untuk membela mereka.Studi Hawthorne tidak terkecuali. Tulisan ini bukan pembelaan dari studi Hawthorne, atau sinopsis dari karya para peneliti individu - Elton Mayo, TN Whitehead, Fritz Roethlisberger, LJ Henderson, dan George Homans. Melainkan tujuannya adalah jauh lebih spesifik: untuk menunjukkan bagaimana studi Hawthorne dirasakan pada zamannya. Melalui analisis sastra kontemporer, kami berharap untuk memungkinkan para sarjana modern untuk memahami bagaimana
Studi Hawthorne berkontribusi pemikiran manajemen kontemporer.
Beberapa sarjana telah menyerang studi Hawthorne untuk kekurang-orisinalitasnya (Bruce, 2006; Wren, 1987). Sedangkan (O'Connor, 1999) menuduh para peneliti Hawthorne mengambil keuntungan dari saat ketidakpastian ekonomi yang besar untuk meningkatkan kehormatan mereka sendiri. Yang lain telah memanggil mereka konsultan, bukan sarjana meneliti (Yorks dan Whitsett, 1985). Sejauh ini kritik historis dan metodologis menimbulkan beberapa pertanyaan yang harus diajukan - yang paling penting adalah mengapa Hawthorne muncul sebagai dominan dalam studi hubungan manusia, bukan Whiting Williams atau pekerjaan eksekutif Henry Dennison? Mengapa pakar mengikuti pendekatan Harvard yang dipimpin oleh Elton Mayo, daripada Williams atau Dennison? Pertanyaan ini memiliki beberapa komponen, Hawthorne bisa ditelaah baik sebagai kontribusi ilmiah atau konsultasi. Saya memeriksa sisi ilmiah dari persamaan, dan berusaha untuk memeriksa konteks sementara dari studi Hawthorne yang muncul. Dengan demikian, saya memeriksa penelitian ilmiah dari laporan pertama studi Hawthorne sampai evaluasi ulang pertama dari para kritikus.
Analisis komentar kontemporer dan review buku dari studi Hawthorne menunjukkan bahwa berbagai ulasan sering sadar akan kecemerlangan dan keaslian penelitian, tetapi pada saat yang sama, diakui keterbatasan ideologis dan metodologisnya. Banyak kritikus mencari baik untuk mendefinisikan kembali studi Hawthorne dalam hal yang berbeda atau kurangnya aspek ideologis atau berusaha menggunakan beberapa konsep Hawthorne dan metode untuk mempelajari masalah tempat kerja lainnya. Sedangkan ulasan dapat bertentangan, sebagian besar tinjauan memuji studi Hawthorne untuk orisinalitas mereka, penggunaan metode baru dan dorongan empiris secara keseluruhan.
Karya Orisinil
Beberapa sejarawan (misalnya Bruce, 2006; Wren, 2005) baru-baru ini mengklaim bahwa penelitian Hawthorne tidak seperti aslinya. Memang, Wern (2005) mencatat bahwa studi Hawthorne tidak benar-benar menemukan sesuatu yang baru: Williams telah menemukan sebagian besar ide-ide yang diyakini awalnya berasal dari studi Hawthorne. Williams adalah seorang penulis non-akademis yang akan pergi menyamar untuk mencari tahu bagaimana para pekerja berinteraksi. Ia menemukan bahwa pekerja akan membentuk kelompok untuk melindungi diri dari manajemen. Dalam Hobo White Collar, Wern mengkritik para peneliti Hawthorne karena menyadari laporan Williams, yang menurutnya akan menghasilkan sebuah penelitian yang jauh berbeda. Wern juga mengutip Gilson (1940) yang percaya bahwa banyak waktu dan energi tidak akan sia-sia telah para peneliti Hawthorne telah menyadari dari "pengalaman orang lain" (hal. 98). Salah satu "orang lain" itu baik temannya Williams (Wren, 1987).
Wern (2005) lebih jauh berpendapat bahwa penemuan organisasi informal, keprajuritan, dan output pembatasan telah terjadi beberapa tahun sebelum oleh Williams, Taylor dan Mathewson (Wren, 2005). Menurut Wern, alasan utama karya Williams tidak begitu sangat dianggap sebagai 'para peneliti Hawthorne adalah bahwa Williams tidak memiliki afiliasi dengan sebuah mashab bergengsi seperti Harvard. Membangun klaim Wern bahwa penelitian Hawthorne tidak mewakili sesuatu yang baru pada disiplin manajemen, Bruce (2006) berpendapat bahwa meskipun Henry Dennison dan lainnya mengembangkan bidang hubungan manusia, konsep Mayo menawarkan kontrol manajemen sarana yang jauh lebih halus. Sampai Wern menemukan kembali dirinya, Whiting Williams telah terlupakan, bukan penjamin disebut-sebut di sejarah manajemen (George, 1972). Tidak adanya Williams dari catatan sejarah mengejutkan, mengingat pentingnya selama tahun 1920. Mungkin salah satu alasan mengapa Williams mungkin tidak diterima karena adalah bahwa karyanya diterbitkan selama era manajemen ilmiah, ketika cendekiawan prihatin dengan masalah yang berbeda.
Namun, akan salah untuk mengasumsikan bahwa pakar sezaman tidak menyadari kerja Williams (1920) atau Mathewson (1931). Pakar sezaman merasa bahwa perbedaan umum antara Williams/Mathewson dan Hawthorne adalah bahwa studi Hawthorne mengumpulkan bukti lebih di bawah kondisi ilmiah, dan gabungan beberapa bidang akademik yang berbeda untuk mengembangkan penjelasan baru untuk menghadapi tantangan dalam kehidupan industri seperti pembatasan output. Sebagai contoh, kontribusi para peneliti Hawthorne adalah bahwa itu adalah di antara penelitian pertama untuk mencoba untuk mengukur tingkat frustrasi pekerja, tidak seperti pekerjaan Williams lebih impresionistik (Lynd, 1939). Selanjutnya, konsensus di antara para sarjana adalah bahwa karya-karya Williams dan Mathewson yang cacat dan dibatasi dalam ruang lingkup. Dibandingkan dengan kelemahan statistik Mathewson itu, studi Hawthorne yang dipuji karena kecanggihan statistik mereka (Betram, 1939). Selain itu, pekerjaan Williams dianggap brilian, tetapi ia tidak memiliki tindak lanjut untuk membuktikan argumennya. Pakar sezamannya memuji studi Hawthorne, karena mereka memberikan detil ketat dalam analisis mereka terhadap interaksi pekerja (Elliot, 1934; Miller dan Form, 1951).
Kontribusi kedua Hawthorne adalah bahwa ia menyediakan peneliti dengan analisis yang lebih terfokus pada interaksi pekerja dalam organisasi, seperti interaksi sosial antara pekerja dan supervisor. Kontribusi ketiga dari studi Hawthorne adalah penggunaan konsep-konsep sosiologis dan psikologis untuk menantang dasar-dasar teori ekonomi (Park, 1934). Sarjana yang lain berbagi pandangan Mayo bahwa studi Hawthorne bisa menjadi jembatan untuk perdamaian dan kemakmuran. Misalnya, Hart (. Tahun 1943, p 151) dilihat para peneliti Hawthorne mencoba untuk menghilangkan kompartementalisasi berkembangnya ilmu-ilmu sosial sebagai revolusioner, sebagai sebuah fakta yang tidak hilang pada sarjana lain (Bladen, 1948; Chester, 1946, Park, 1934; terbaca, 1930; Weiss, 1949).
Fakta bahwa studi Hawthorne akan memiliki sebuah daya tarik yang luas mungkin mengejutkan sarjana modern, yang berpikir bahwa studi sebagian besar terinspirasi oleh ide-ide konsep Vilfredo Pareto yang irasional. Memang, beberapa sarjana pada saat itu melebih-lebihkan pengaruh Pareto pada penelitian dan mengkritik mereka atas dasar itu (Friedmann, 1955; Hacker, 1955; Knox, 1955). Keller (1984) berpendapat bahwa hubungan Harvard diberikan legitimasi untuk pekerjaan Pareto. Namun bertentangan dengan Keller, dukungan kelompok Mayo Pareto adalah berkat - bahkan dalam status sosial mereka di kampus Harvard (Schlesinger, 2000). Whyte (1994), Mayo (Trahair, 1984) dan Roethlisberger (1977) tidak pernah menjadi murid Pareto. Whitehead dan Henderson (Roethlisberger, 1977) mempertimbangkan seluruh kelompok Pareto Harvard terinspirasi dan melebih-lebihkan.
Mayo dipengaruhi oleh psikolog terkenal, dan sosiolog, seperti Janet, Freud, Piaget, dan Durkheim. Pelatihan Mayo adalah luas dan ia membaca berbagai karya ilmiah. Pengaruh jayanya mungkin Janet, salah satu beberapa buku yang dipublikasikan Mayo pada saat waktu di Harvard adalah sebuah buku yang memperkenalkan teori Janet. Setidaknya salah satu resensi menyalahkan pekerjaan untuk menjadi lebih terinspirasi oleh Freud - yang resensinya dianggap sebagai murtad (Hart, 1949). Homans adalah pendukung dan Pareto, di luar Henderson dan Whitehead, ia mungkin satu-satunya di bawah pengaruh langsung dari Pareto. Memang, seleksi Homans untuk Society of Fellows bergengsi di Harvard adalah karena buku yang diterbitkan pada Pareto (Homans, 1984). Oleh karena itu, penting untuk melihat studi Hawthorne sebagai dipengaruhi oleh banyak bidang ilmu sosial dan pemikir, bukan hanya sosiologi dan Pareto.
Meskipun keinginan Lynd (1937), Hart (1943), Chase (1946) dan lainnya, penyatuan ilmu-ilmu sosial gagal. Ilmu sosial terlalu istimewa pada 1930-an untuk bersatu, karena asumsi, jargon, dan metode penelitian yang berbeda. Itulah yang terjadi, sarjana lain melihat studi Hawthorne sebagai sarana memperkuat disiplin mereka sendiri. Para sarjana dari ilmu politik (De Grazia, 1951), administrasi publik (Platt, 1947), dan industri sosiologi (Parsons dan Barber, 1948) mengagumi kontribusi dari studi Hawthorne. Parsons dan Barber sejauh ini menyatakan bahwa studi Hawthorne adalah karya unggulan beasiswa di bidang masing-masing. Padahal ada perbedaan penting dalam hal pendekatan dan analisis, baik sociometrics (Rogers, 1946) dan psikologi industri (Hart, 1943; Homans, 1949) adalah berhutang untuk mempelajari.
Awalnya, Hugo Munsterberg dan Frank Gilbreth mencoba menjelaskan kelelahan fisik melalui sarana fisik (Wren, 2005). Ketidakmampuan untuk menjelaskan kelelahan fisik membiarkan pintu terbuka untuk studi Hawthorne menjelaskan kelelahan fisik menggunakan kelompok informal, sekelompok pekerja yang berfungsi sebagai sebuah kelompok. Tidak seperti Hugo Munsterberg dan Frank Gilbreth, para peneliti Hawthorne menemukan bahwa kelompok informal sangat penting dalam memastikan tingkat tertinggi kinerja dari karyawan mereka.
Sementara argumen kelompok Mayo adalah sama dengan Williams, mereka memiliki keuntungan dari penerbitan karya mereka selama periode pergolakan ekonomi. (1920) karya Williams diterbitkan selama waktu ketika manajemen ilmiah Taylor masih pada puncak pengaruhnya. Mungkin kemakmuran yang luar biasa dari tahun 1920 tidak memungkinkan manusia ekonomi ditangani atau, seperti makalah ini berpendapat, bahwa Williams tidak secara empiris menunjukkan temuannya. Dalam dekade berikutnya 1930-an dan 1940-an, para sarjana yang bersedia untuk fokus pada aspek yang berbeda dari motivasi pekerja.
Pembentukan gerakan intelektual memakan waktu lebih dari penerbitan studi tunggal, tidak peduli seberapa brilian penelitian yang mungkin. Kelompok Mayo telah menetapkan dan mendefinisikan ulang ide-ide mereka baik oleh murid-murid mereka atau dengan berbagai bidang. Membangun lapangan menuntut siswa, kolega, dan pihak berkepentingan lainnya untuk menantang penemuan anda (Kuhn, 1970). Ini juga perlu mematuhi norma-norma profesional. Misalnya, konsep komplementer dari dinamika kelompok dan kelompok informal yang Mayo dan Rogers (Rogers, 1942) awalnya dikembangkan, digunakan, didefinisikan ulang dan diterapkan oleh kelompok baru akademis seperti Komite Hubungan Manusia di Universitas Chicago (Parsons dan Barber, 1948). Program baru dari sosiologi industri di Universitas Chicago menampilkan beberapa profesor dengan koneksi dengan kelompok Mayo seperti Whyte dan Warner (Gardner dan Whyte, 1946). Selain kelompok Chicago, para peneliti Hawthorne juga punya hubungan kuat dengan penelitian yang sedang berlangsung dari kelompok Lewin di Iowa yang mempelajari inner psikologis kelompok (Davis, 1957). Koneksi ini sebagian berasal dari pandangan yang serupa tentang kepemimpinan demokratis dan otoriter (Parker-Weiss, 1958). Akhirnya, konsep interaksi kelompok kecil terinspirasi pendidik (Horwitz, 1953), sosial-metricians dan ilmuwan sosial lainnya (Rogers, 1946), yang menantang pandangan bahwa kelompok itu hanya sebuah kumpulan individu termotivasi oleh tidak lain dari diri bunga. Sebagaimana dicatat dari kutipan dalam ayat ini, sezaman sangat menyadari pengaruh bahwa studi Hawthorne memiliki pada pembangunan bidang baru - sosiologi industri.

Permasalahan dengan metode
Para ahli telah mengkritik desain (Argyle, 1953; Carey, 1967), dengan alasan bahwa output meningkat dapat dijelaskan oleh faktor moneter (Parsons, 1974). Saat ini, studi Hawthorne mungkin lebih diakui untuk masalah metodologis dan argumen yang keliru ini bukan untuk temuan yang signifikan mereka. Namun, pakar pada saat itu mengakui beberapa batas metodologis Hawthorne, misalnya seperti batas teoritis, bias yang situasional, dan kurangnya bukti mengenai kehidupan rumah pekerja. Dengan kata lain, meskipun pakar kontemporer menyadari keterbatasan mengenai penemuan Hawthorne, mereka masih mengakui studi Hawthorne sebagai kontribusi penting. Pertanyaannya adalah mengapa, meskipun bermasalah dalam metodologi, mereka mengakui studi Hawthorne sebagai kontribusi penting?
Dalam hal metodologi penelitian, beberapa pakar (Briefs, 1940; Moore, 1947a, b; Viteles, 1953) mencatat bahwa perempuan yang dipilih untuk penelitian ini tidak dipilih secara acak dan bahwa temuan Hawthorne dibatasi oleh ukuran sampel. Sedikitnya jumlah operator diteliti menciptakan beberapa pertanyaan serius yang berkaitan dengan generalisasi penelitian. Misalnya, Brief (1940) mempertanyakan validitas eksternal dari sampel sebagai wanita terbentuk hubungan yang mereka mungkin tidak memiliki jika ukuran sampel sudah lebih besar. Keprihatinan utama adalah bahwa ukuran sampel terlalu terbatas untuk membuat penilaian tentang populasi penuh (Grodzins, 1951; Hughes, 1958) dan tidak cukup mempertimbangkan berbagai populasi minoritas seperti orang Afrika-Amerika (Moore, 1947b). Di sisi lain, para sarjana pada waktu itu juga mengerti bahwa ukuran sampel yang diberikan kekuatan dalam yang memungkinkan untuk penciptaan pertanyaan penelitian baru. Meskipun Briefs mengkritik ukuran sampel yang kecil, ia juga mencatat pendekatan baru yang diperbolehkan untuk munculnya ide-ide menarik lainnya. Florence (1938) berpendapat bahwa ukuran sampel yang kecil memberikan keuntungan karena secara efektif memungkinkan untuk kegiatan pekerja untuk dipelajari dengan sangat rinci, yang mengarah ke penemuan kebetulan dari kelompok informal. Moore (1947b) mengkritik penelitian karena tidak termasuk Afrika-Amerika. Harus dicatat, bagaimanapun, bahwa studi Hawthorne dilakukan sebelum migrasi besar orang Afrika-Amerika di utara, yang akan berubah selamanya komposisi masyarakat selama Perang Dunia II. Pekerjaan ini akan dilakukan oleh Hughes (1946, 1949), yang akan memeriksa dan menganalisis interaksi antara berbagai kelompok etnis, termasuk Afrika-Amerika, baik di dalam kelompok informal dan dalam manajemen.
Psikolog industri, mempertanyakan apakah elemen istimewa dari interaksi individu dari studi Hawthorne dapat direplikasi, menciptakan bias (Viteles, 1941, 1953). Sebaliknya, sosiolog percaya bahwa sosiolog industri menciptakan bias situasional ketika mereka gagal untuk mencatat perbedaan antara pekerja di rumah dan apa yang di luar interaksi sosial mempengaruhi penampilannya (Friedmann et al, 1949;. Kornhauser, 1934). Pakar kontemporer berhipotesis (Viteles, 1953) bahwa para peneliti akan memiliki waktu sulit memahami pekerja, mengantisipasi kritik yang akan dinaikkan 30 tahun kemudian (Greenwood dkk., 1983). Mereka menyarankan bahwa ini akan terjadi karena adanya jurang budaya yang melekat antara pekerja dan peneliti sehingga para pekerja mungkin memberitahu peneliti apa yang peneliti ingin mendengar, atau tidak sama sekali (Schneider, 1950). Perbedaan dalam metode dan kepentingan menciptakan keretakan antara sosiolog dan sosiologi industri yang tidak pernah diselesaikan.
Pakar kontemporer juga mencatat bahwa manfaat ekonomi mungkin memotivasi pekerja Hawthorne lebih dari manfaat sosial (Viteles, 1941). Misalnya, Roy (1952) tersinggung dengan orang-orang yang berpendapat bahwa pekerja tidak peduli tentang uang, karena pekerja ia pernah belajar berfungsi seperti "mesin penghitung" dalam menentukan output dan upah harian mereka. Namun, Viteles mencatat kemudian bahwa kritik mengenai imbalan finansial tidak benar karena mereka tidak beroperasi pada kekuatan yang sama dimanapun dan kapanpun, sehingga melemahkan penjelasan ekonomi interaksi pekerja/manajemen (Viteles, 1953). Pakar masa depan harus meneliti dan berteori, dengan menggunakan konsep-konsep sosiologi dan psikologi, untuk mengembangkan hubungan antara motivasi ekonomi dan sosial (Weiss, 1949).
Homans, seorang mahasiswa dari Mayo dan Whitehead, mencatat bahwa percobaan menunjukkan bahwa jenis lain dari hal-hal yang terlalu samar, mungkin "faktor" selain kondisi kerja fisik baku menentukan output. Ini, tentu saja, telah menjadi masalah yang dialami manajemen sejak zaman Taylor. Titik Homans menghantam pada sesuatu yang telah hilang dalam sejarah. Sementara ia mencatat bahwa rekan-rekannya merasa bahwa percobaan gagal, ia berpendapat bahwa melalui proses yang diungkapkan oleh percobaan, mereka mampu menunjukkan output pekerja dari kelompok itu sebagian besar tergantung pada kelompok informal. Hal ini dapat dikaitkan dengan tekanan sosial yang individu ditempatkan pada sesama pekerja untuk membatasi produksi atau untuk melindungi diri dari manajemen. Dalam frase Homans itu, studi Hawthorne memberikan dasar dari ilmu, "percobaan cahaya," yang di bawah kendali eksperimental dapat memberikan dasar yang akan menjadi "eksperimen bukti," yang akan menentukan hubungan yang efektif antara dua variabel (Homans, 1949).
Pada 1956, pakar memiliki pemahaman yang jauh lebih baik dari berbagai kekuatan luar atasan langsung yang mempengaruhi pekerja (Whyte, 1956). Dinamika interaksi kelompok dalam pengaturan industri yang diperiksa para peneliti Hawthorne menyebabkan serangkaian studi yang mencakup department store, hotel, restoran, kereta api, perusahaan asuransi, dan bank (Moore, 1947a; Whyte, 1956). Whyte mencatat bahwa apapun kebaikan pendekatan awal Hawthorne telah mengenai rincian dari tatanan tradisional, Mayo, dan riset kelompoknya adalah terlalu banyak selebaran untuk memungkinkan pengembangan kesimpulan yang akurat mengenai pengaruh antara interaksi di dalam pabrik industri dan masyarakat sekitarnya. Kemudian, pakar memiliki pemahaman yang lebih baik dari interaksi masyarakat dan pabrik industri daripada Mayo, tetapi masing-masing dari mereka berhutang kepada teknik bahwa kelompok Hawthorne telah dikembangkan. Sebagai contoh, Hughes, Jacobson/Rainwater, dan Collins (Collins, 1946; Hughes, 1946; Jacobson dan Rainwater, 1953) meneliti bagaimana interaksi ras dan etnis dimainkan dalam angkatan kerja. Warner dan Low (1947) menunjukkan bagaimana teknologi dan serikat mengubah interaksi pekerja di pabrik. Bekerja di tahun 1950 akan membawa studi tentang bank (Argyris, 1954) dan di antara salesman (Lombard, 1955). Bagian dari kontribusi studi Hawthorne adalah bahwa pekerjaan mereka bisa diperluas dan diuji dalam situasi yang berbeda, untuk menunjukkan persimpangan antara materi dan manfaat material.

Politik dan moral keprihatinan
Namun lain kritikus ilmiah O'Connor (1999) berpendapat bahwa Harvard Business School menjual studi Hawthorne sebagai obat untuk penyakit-penyakit Depresi Besar dan bahwa pemasaran ini memungkinkan Harvard Business School untuk menjadi lembaga yang sah. Komentarnya sebagian besar benar dalam hal menciptakan legitimasi bagi mashab bisnis pada umumnya dan Harvard Business School pada khususnya. Namun demikian, pakar dari sosiologi dan psikologi tidak senang dengan implikasi konsultasi pekerjaan.
Para peneliti Hawthorne itu hancur untuk menjadi totaliter (Sheppard, 1950), fasis (Lynd, 1937), mendorong Nazisme (Kimball, 1946), kapitalis (Lynd, 1937), "sapi sosiolog" (Bell, 1947a) dan anti serikat (Bendix dan Fisher, 1949). Mungkin yang paling keras dari semua kritikus adalah Grodzins (1951), yang berpendapat bahwa pekerjaan mendorong teknik manipulatif yang dirancang untuk menjaga pekerja di bawah kontrol. Salah satu argumen utama Grodzins adalah bahwa ilmuwan menerapkan - pembuat bom, psikolog militer, hubungan manusia sarjana - membingungkan ilmu pengetahuan dengan moralitas. Grodzins percaya bahwa mereka mengembangkan konsep brilian, tetapi konsep tersebut tidak membawa apapun yang layak bagi kemanusiaan. Advokasi Mayo dan argumen umum dalam mencaci maki (Dunlop dan Whyte, 1950). Bahkan para sarjana mereka (Warner dan Low, 1947; Whyte, 1948) yang pada dasarnya menggambarkan interaksi dalam suatu pengaturan industri dan bagaimana perubahan terjadi dikritik karena mereka menganggap keberadaan kapitalisme (Bell, 1947b). Meskipun studi Hawthorne meningkatnya rasa hormat praktisi untuk Mashab Bisnis Harvard, banyak sarjana marah oleh bias manajerial mereka.
Sementara para peneliti mencatat kecemerlangan penelitian Hawthorne (Friedmann, 1955) dan mengakui kontribusi intelektualnya (Kimball, 1946), mereka tidak bisa menerimanya sepenuhnya karena perbedaan mendasar pada asumsi dan pandangan mengenai sifat dasar dari kapitalisme. Kebanyakan kritikus dari studi Hawthorne adalah (seperti Friedmann, Lynd, dan Bell) ke kiri secara politis - mulai dari orang percaya yang kuat dalam demokrasi industri untuk sosialis. Industri sosiologi diikuti program yang berbeda, hanya satu yang satu adalah "hubungan manusia" atau pendekatan mashab Harvard Business (Sorensen, 1951). Kursus-kursus ini menjadi dua mashab. Kedua mashab industri sosiologi muncul: yang didasarkan pada konsep yang berasal dari Emile Durkheim, yang lain dari Karl Marx. Argumen antara mashab-mashab yang saling bertentangan adalah bahwa satu kapitalisme dilihat sebagai berkat dan yang lain yang diinginkan masyarakat yang lebih sosialistik (Stone, 1952). Pelanggaran ini membuat beberapa sarjana percaya bahwa gerakan hubungan manusia diciptakan hanya untuk "memanipulasi dan mengendalikan" pekerja untuk meningkatkan produksi (Koivisto, 1953).
Beberapa sarjana percaya bahwa gerakan manusia hubungan ini dirancang untuk mendorong pekerja dari serikat (Gilson, 1940; Knowles, 1955). Kesenjangan dalam penelitian terjadi karena pakar merasa bahwa Mayo dkk. tidak mempertimbangkan dampak dari serikat pada kelompok kerja informal. Upaya untuk melukis Mayo sebagai sopir budak gagal karena Mayo meninggalkan bentuk-bentuk yang lebih keras dan lebih menindas pengawasan (Freeman, 1936). Sebaliknya, gambar bersejarah Mayo sebagai "manipulator" telah dialaminya. Studi Hawthorne tidak mempertimbangkan peran serikat pekerja, namun para peneliti Hawthorne berusaha untuk memahami produksi melalui kelompok informal, bukan melalui kelompok formal, seperti serikat buruh. Sebagai contoh, sedangkan Whitehead menutupi peran serikat, ia berpendapat bahwa mereka tidak membantu situasi karena mereka pada dasarnya sesuai dengan tekanan ekonomi yang sama seperti yang bisnis besar (Starnes, 1937). Scott dan Homans menyatakan bahwa serikat pekerja bukanlah obat mujarab untuk pesanan - mereka berpendapat bahwa hanya interaksi manusia bisa menyatukan kelas pekerja (Scott dan Homans, 1947). Selain itu, penelitian Hawthorne dilakukan sebelum tanaman Hawthorne itu serikat. Menyerang Mayo dkk., karena tidak mempertimbangkan serikat ini mirip dengan faulting Dmitri Mendeleev untuk tidak mempertimbangkan unsur-unsur yang belum ditemukan ketika dia mengorganisir tabel periodik.
Penting untuk dicatat, seperti yang dilakukan Landsberger, bahwa sebagian besar serangan pedas awal diarahkan pada khotbah Mayo, bukan pada temuan penting dari karya-karya yang lebih ilmiah yang terpancar dari studi Hawthorne, seperti Manajemen dan Pekerja (Landsberger, 1968). Banyak sarjana mengagumi metode umum penelitian dan analisis bahwa studi Hawthorne diproduksi, tetapi berusaha untuk mengubah temuan dan kesimpulan yang dihasilkan dari Hawthorne menjadi sesuatu manajemen yang kurang pro (Babchuk dan Goode, 1951; Medalia dan Miller, 1955). Misalnya, Barkin menggariskan program mirip dengan Hubungan Manusia, yang akan mencakup serikat, demokrasi industri, dan nilai-nilai pemahaman luar dan komitmen (Barkin, 1955). Beberapa siswa Mayo dan rekan, seperti Whyte, Warner, atau Agryis, yang entah siswa selama tahun 1930-an atau terhubung ke Harvard Business School, akan terus menganalisis kelompok dalam lingkungan kerja. Selain itu, Hart menulis bahwa kebutuhan untuk memeriksa serikat harus ditangani, dan ini dilakukan oleh Whyte dan lainnya (Hart, 1949; Powell, 1957). Penting untuk dicatat bahwa sementara sarjana manajemen prihatin dengan isu-isu seperti produksi, sosiolog prihatin dengan isu-isu seperti alienasi. Juga, sosiolog seperti Moore akan berhutang kepada studi. Upaya teoritis studi 'untuk menjelaskan hasil dipengaruhi pengembangan tentang teori mengenai klik-klik (Moore, 1946). Kesimpulannya, sosiolog dan lain-lain mencatat bahwa manfaat dari studi termasuk penemuan kelompok informal, observasi dari interaksi di tempat kerja, khususnya bagaimana kelompok etnis dan ras yang berbeda berinteraksi. Mereka membayar studi pelengkap yang tinggi memperluas menggunakan asumsi yang berbeda.

Kesimpulan
Argumen yang dibuat dalam tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menunjukkan infalibilitas kelompok sezaman Mayo, tetapi untuk menunjukkan bahwa mereka menaikkan beberapa isu sama dengan sarjana modern. Daripada melihat studi Hawthorne sebagai jawaban definitif untuk pertanyaan motivasi kerja, sezaman ingin mendefinisikan, membatasi, dan memahami temuan mereka. Namun, mereka mengakui kecemerlangan dan berpikir penelitian memprovokasi meskipun kelemahan penelitian dan isu-isu politik. Pengakuan, pada gilirannya, membuat kontribusi Hawthorne yang dirasakan.
Sebagai sejarawan ilmu sosial, kita harus berusaha memahami mengapa sebuah studi penelitian muncul dan yang lain tidak. Wern (1987) telah melakukan layanan penting dalam penemuan kembali mereka dari Williams, karena kita sekarang memiliki visi yang jauh lebih kaya dan lebih bernuansa masa lalu maka kita punya sebelumnya. Namun, sejarah revisionis bukan tanpa perangkap, terutama karena itu tidak dapat dilakukan tanpa berlebihan (Levine, 1989). Salah satu alasan utama bahwa studi Hawthorne telah dikenakan revisionisme adalah bahwa kemajuan ilmu pengetahuan dan standar telah dipertanyakan beberapa temuan awal.
Namun demikian itu salah untuk klaim, karena Wern tidak, bahwa studi Hawthorne menjadi terkenal dengan mengorbankan Williams atau Mathewson karena koneksi Harvard yang Mayo dimiliki atau keangkuhan akademis dari waktu (Wren, 2005). Evaluasi literatur ilmiah menunjukkan sebaliknya. Ketika kembali mengevaluasi kerja dari Mayo dan kelompoknya adalah bahwa sementara studi Hawthorne mungkin belum sebagai asli sebagai sarjana modern awalnya dirasakan mereka untuk menjadi pakar kontemporer memang menyadari Williams, Dennison, dan Mathewson. Kepercayaan kontemporer paling terkenal adalah bahwa prosedur eksperimental studi Hawthorne sebagian besar divalidasi temuan sebelumnya. Tapi tidak seperti Mathewson, Denison dan Williams, penelitian Hawthorne tampaknya ilmu sosial yang serius di dalamnya muncul sebagai eksperimen terkontrol, bukan yang buatan (UU Journal Yale, 1951). Bahkan kritikus yang paling awal penelitian, misalnya Bell (1947a, b), Bendix dan Fisher (1949), dan Sheppard (1950) menyerang advokasi Mayo dan dikritik sosiolog industri sebagai pendukung manajemen terhadap kepentingan pekerja. Meskipun demikian, mereka mengakui kontribusi, bahkan jika mereka tidak setuju dengan pandangan dunia. Seperti disebutkan sebelumnya Moore (1946), yang mengecam penelitian sebagai tidak orisinal, dibangun pada pekerjaan mereka dengan mengembangkan konsep kelompok informal menjadi sebuah teori klik. Oleh karena itu, kritik Hawthorne, untuk sebagian besar, dianggap karya Mayo dkk. sama pentingnya dan asli, jika tidak ideologis menyenangkan.
Pembentukan komunitas intelektual membutuhkan lebih dari satu buku, tidak peduli seberapa brilian atau diteliti mungkin. Para sarjana membutuhkan bukti yang lebih dari satu set pengamatan untuk mengembangkan paradigma potensial atau tipologi. Dalam situasi ini, banyak dari para pengulas mengagumi tingkat yang luar biasa bakat intelektual yang dibawa ke analisis hasil Hawthorne. Mereka menghasilkan penelitian yang merupakan gabungan beberapa pendekatan ilmu sosial yang berbeda dan penelitian statistik dan analisis yang lebih menyeluruh. Mereka juga memiliki tenaga untuk mempertahankan penelitian Hawthorne dan komitmen untuk memperluas bidang yang berbeda, yang memberikan aliran review, sanggahan, dan argumentasi. Misalnya, Homans akan membangun teori untuk menjelaskan interaksi dalam kelompok-kelompok sosial; Whyte, seorang mahasiswa dari Mayo, akan meneliti kerja-tempat fenomena sisa hidupnya. Inovasi datang melalui modal sosial dan perantara antara ide-ide.
Burt (2004) berpendapat bahwa inovasi berasal dari bridging lubang struktural, yang memungkinkan untuk terjadinya perantara. Pialang adalah tidak lebih dari perpaduan dari ide yang berbeda dan konsep yang menyatu bersama-sama melalui modal sosial. Dalam studi Hawthorne, pendekatan multidisiplin yang muncul adalah akibat langsung dari Henderson dan modal sosial Mayo dan broker. Studi Hawthorne muncul untuk menciptakan merek, berbeda baru penelitian yang akan memungkinkan untuk ilmu sosial yang lebih terintegrasi, sebuah fakta tidak hilang pada saat itu untuk banyak ulasan (Hart, 1943). Salah satu kontribusi utama dari studi Hawthorne adalah bahwa itu mengulurkan harapan untuk sementara bahwa ilmu sosial terpadu bisa muncul.
Namun ternyata tidak. Homans (1984) menghabiskan sisa hidupnya dalam upaya untuk mengembangkan teori terpadu ilmu-ilmu sosial dan untuk hidup sesuai dengan janji awal dari percobaan Hawthorne. Memang, magnum opus-nya, Grup Manusia, digunakan konsep-konsep ekonomi, psikologi, dan sosiologi untuk mengembangkan teori interaksi kelompok informal. Namun usahanya untuk menciptakan lapangan terpadu seperti Kapten Ahab mengejar paus putih - tugas itu hanya di luar jangkauannya. Suatu hari di Harvard, sosiolog mengedarkan beberapa kertas, yang mencoba untuk menciptakan ilmu pengetahuan sosial terpadu dengan mengembangkan terminologi umum untuk ilmu-ilmu sosial. Homans melihatnya dan berseru: (Schlesinger, 2000) "Apa, adalah bahasa Inggris tidak cukup baik?". Namun, ia ditemukan selama penelitian Hawthorne, nilai-nilai normatif yang berbeda dari bidang akademik yang berbeda, serta standar yang berbeda metodologi dan asumsi, menyajikan sebuah hambatan nyata untuk integrasi ilmu-ilmu sosial. Apa yang muncul, bagaimanapun, adalah pemahaman yang besar, dan mendorong untuk belajar motivasi kerja dan perilaku organisasi lainnya. Banyak sekali topik perilaku organisasi memiliki akar dalam studi Hawthorne (Locke dan Latham, 2004; Organ et al, 2006.).
Mengapa pakar peduli studi Hawthorne setelah bertahun-tahun? Tidaklah cukup untuk mengatakan bahwa mereka telah mempengaruhi peneliti. Tapi dengan memahami pentingnya studi sejarah dan bagaimana pakar kontemporer kontribusi dirasakan menyediakan sarjana modern dengan template untuk kontribusi potensial dan wawasan. Hal ini memungkinkan kita untuk memiliki pemahaman yang lebih besar dari lapangan karena saat ini berdiri. Sementara, penelitian masa depan diperlukan untuk membawa warisan Hawthorne dari 1958 hingga sekarang, jelas bahwa Hawthorne bisa terus memberikan motivasi dan alasan untuk lintas disiplin penelitian, karena interaksi manusia begitu kompleks sehingga tidak "manusia ekonomi " atau " manusia sosiologis" sepenuhnya menjelaskan perilaku kerja. Namun Hawthorne membuktikan bahwa jenis penelitian dilengkapi dengan biaya potensial, sebagai bidang yang berbeda memiliki asumsi yang berbeda dan nilai-nilai yang membatasi lintas-disiplin penelitian; sarjana modern harus memperhatikan hal ini.

Effects of work redesign on employee perceptions, attitudes, and behaviors: A long-term investigation. Griffin, Ricky W.

Penelitian ini meneliti pengaruh jangka panjang dari redesain pekerjaan pada sejumlah variabel persepsi, sikap, dan perilaku. Untuk kelompok eksperimental, 526 Bank teller, variabel sikap awalnya membaik, tetapi kemudian menurun ke tingkat semula. Kinerja menunjukkan tidak ada perubahan setelah 6 bulan tetapi perbaikan yang signifikan setelah 24 dan 48 bulan.
Organisasi penelitian tentang redesain pekerjaan telah cukup menarik bagi para sarjana selama tiga dekade terakhir. Fokus penelitian ini adalah tentang bagaimana berbagai jenis konfigurasi tugas mempengaruhi sikap dan perilaku karyawan kunci. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menilai pengaruh selama jangka waktu yang diperpanjang.

LITERATURE REVIEWS

Karya Hackman dan rekan-rekannya mendorong minat redesain pekerjaan (Hackman & Lawler, 1971; Hackman & Oldham, 1970, 1980). Dalam gambaran karya Turner dan Lawrence (1965), Hackman berpendapat bahwa potensi memotivasi pekerjaan dapat terwakili dengan baik oleh sejumlah dimensi tugas. Dimensi yang paling sering digunakan adalh berbagai tugas, autonomi, umpan balik, identitas, dan makna. Asumsi jika pekerjaan memiliki tingkat atribut yang relatif tinggi, potensi motivasi lebih besar dari pada pekerjaan yang memiliki tingkat atribut yang relatif rendah.
Meskipun lainnya memiliki formulasi teoritis alternatif yang canggih (bdk. Salancik & Pfeffer, 1978), kerangka teoretis dasar Hackman tidak disangkal. Dan meskipun potensi peran individu berbeda telah jatuh ke minat posisi sekunder, pendekatan umum yang berkaitan persepsi tugas untuk variabel outcome masih merupakan metode yang umum untuk mempelajari tugas (misalnya Idaszak & Drasgow, 1987; Gerhart, 1988)
Penelitian di area ini telah mendapat dukungan cukup konsisten untuk hubungan antara persepsi tugas dan sikap (bdk. Griffin, 1982a). Di sisi lain, hubungan antara persepsi tugas dan kinerja yang kurang jelas (Griffin, Welsh & Moorhead, 1981). Dalam beberapa kasus, persepsi tugas tidak berhubungan dengan kinerja (misalnya, Hackman & Oldam, 1976). Dalam kasus lain, hubungan yang signifikan telah ditemukan (misalnya Griffin, 1982a). Penelitian yang berhubungan dengan persepsi tugas dan reaksi karyawan telah dilakukan dalam berbagai setting. Penulis telah melaporkan beberapa penelitian laboratorium (misalnya Umstot, Bell, & Mitchell, 1976), tapi cross-sectional survei lapangan yang paling umum (misalnya Hackman & Oldham, 1976). Beberapa experimen lapangan dan survei lapangan juga telah dilaporkan (Griffin, 1983; Orpen; 1979)
Experimen lapangan telah memberikan bukti yang cukup jelas dan konsisten dengan pengaruh redesain pekerjaan. Secara khusus, penelitian telah menunjukkan bahwa karyawan melihat perubahan dalam pekerjaan mereka dan mengekspresikan tingkat yang lebih tinggi pada motivasi, kepuasan, atau keduanya. Meskipun, tidak selalu tampil lebih baik. Periode waktu untuk penelitian ini relatif singkat. Griffin, (1983) melakukan experimen selama empat bulan, dan Orpen (1979) selama enam bulan. Studi longitudinal lain dari atribut tugas, telah membahas periode tiga bulan (Griffin, 1981) dan enam bulan (Lawler, Hackman, & Kaufman, 1973). Setidaknya satu publikasi studi jangka panjang difokuskan pada otonom kelompok kerja (Wall, Kemp, Jackson, & Clegg, 1986). Namun, penelitian tidak mencakup pengukuran persepsi tugas individu. Pertanyaan yang tak terjawab sebelumnya adalah sejauh mana pola hubungan timbal balik antara variabel desain kerja yang stabil atau tidak stabil dalam jangka waktu yang lama. Mengingat bahwa tidak ada alasan untuk mengharapkan semua hasil pada saat yang sama, secara logis dengan menilai selama jangka waktu tertenu, peneliti bisa mempelajari tentang pola kausal antara variabel-variabel kunci. Penelitian ini dirancang untuk mengatasi kesenjangan dalam literatur penelitian dengan menguji efek perubahan kerja pada sikap dan perilaku karyawan selama interval 6. 24, dan 48 bulan.



METHOD

Site and Respondents

Penelitian dilakukan pada tahun 1980 pada 38 anggota bank dari Southwestern bank. Perusahaan meminta agar tanggal tertentu dikecualikan dari artikel ini untuk membantu menjaga anonimitas nya. Dalam satu tahun terakhir, perusahaan memiliki pendapatan total sekitar $ 2,4 miliar dan keuntungan sekitar $ 175 juta. Bank-bank anggota berlokasi di tujuh wilayah metropolitan. Para responden potensial adalah para teller bank sekitar 1.000 bekerja di 38 bank, 85 persen di antaranya adalah perempuan. Para teller berusia rata-rata 26,5 tahun; 98 persen memiliki ijazah diploma, hanya 3 persen memiliki gelar sarjana. Rata-rata pengalaman mereka dengan perusahaan bank, paling sedikit empat tahun pada saat penelitian dilakukan.

Prosedur
1. Job change intervention. Selama musim gugur pada tahun 1980 dan musim semi berikutnya, manajemen perusahaan bank memutuskan untuk mengimplementasikan sebuah jaringan komputer on-line untuk fungsi teller dan memperkaya pekerjaan teller. Tujuan dari intervensi pengayaan (enrichment) adalah untuk membuat pekerjaan menjadi lebih profesional dan bermanfaat melalui peningkatan tanggung jawab, wewenang, dan akuntabilitas. Dua peristiwa diminta intervensi. Studi wawancara dilakukan di musim semi oleh staf sumber daya manusia perusahaan telah menunjukkan ketidakpuasan yang cukup besar antara teller tentang pekerjaan mereka. Peserta merasa bukan bagian dari "tim" dan tidak lebih dari "panitera dimuliakan" dan mereka diperiksa oleh supervisor mereka terlalu sering untuk keputusan kecil. Mereka juga merasa pekerjaan itu membosankan
2. Measures Strategy. Pelaksanaan perubahan yang direncanakan terjadi selama musim semi dan awal tahun yang sama di mana manajemen telah memutuskan perubahan pekerjaan. Perusahaan membeli jaringan komputer dari vendor sistem komputer besar dan telah diinstal oleh personil vendor. Sementara itu, manajemen perusahaan memutuskan untuk mengeluarkan satu bank dari intervensi, dengan alasan perusahaan telah memutuskan untuk menjual bank ini. Tidak ada bank lain yang tergabung dalam perusahaan holding di komunitas bank yang dikecualikan itu. Tak satu pun dari karyawan operasional menyadari perubahan pekerjaan sedang direncanakan untuk bank lain, mereka juga tidak sadar akan rencana penjualan. Jadi, kita mempertahankan karyawan bank dalam penelitian ini untuk tujuan perbandingan.


Measures
Sejumlah enam variabel persepsi, sikap, dan perilaku yang diukur adalah:
1. Task perception. Persepsi tugas diukur dengan survei diagnostik pekerjaan (JDS: Hackman & Oldham, 1975). JDS, mengukur berbagai tugas, otonomi, umpan balik, signifikansi, dan identitas, merupakan instrumen yang paling banyak digunakan dalam penelitian desain tugas dan telah dikenal dan sifat psikometri secara umum dapat diterima. Faktor analisis data menghasilkan solusi lima faktor hampir identik dengan skala priori. Mengikuti pedoman yang diberikan oleh Hackman & Oldham, (1975). Saya menggabungkan skala menjadi motivating potential score , atau MPS
2. Job satisfaction. Kepuasan kerja diukur dengan bentuk pendek dari Minnesota Satisfaction Questionnaire (MSQ: Weiss, David, England, & Lofquis; 1957). Penelitian sebelumnya telah menunjukkan 20 item dalam MSQ untuk memiliki tingkat yang dapat diterima reliabilitas dan validitas di berbagai setting (Cook, Hepworth, Wall, & Warr, 1981). Respon pada lima skala mulai "sangat setuju" dan sangat tidak setuju "
3. Organizational Commitment. Komitmen organisasi diukur dengan 15 item skala yang dikembangkan oleh Porter, Steers, Mowday, dan Boulian (1974). Respon pada tujuh skala, mulai dari "sangat kinerja Sekali, instrumen telah didokumentasikan dengan baik sifat psikometrik (Cook et al, 1981).
4. Performance. Kinerja dinilai melalui evaluasi pengawasan pada skala tiga item. Satu tergolong item kualitas kinerja, satu untuk kuantitas kinerja, dan yang ketiga untuk kinerja secara keseluruhan. Misalnya, item kualitas, "teller telah secara konsisten melakukan pekerjaan yang berkualitas tinggi selama enam bulan terakhir." Skala respon lima poin berkisar dari "sangat setuju" dan sangat tidak setuju ". Saya menggabungkan tiga item untuk mendapatkan indeks kinerja secara keseluruhan. Evaluasi untuk setiap teller diperoleh pada waktu yang sesuai dengan administrasi kuesioner survei. Dari teller pada set terakhir, 81 persen dievaluasi oleh individu yang sama di semua titik waktu.
5. Absenteeism. diperoleh dari catatan bank, dengan ketidakhadiran didefinisikan sebagai jumlah hari teller telah absen dari kerja selama enam bulan sebelum titik pengukuran. Liburan dan cuti tahunan (yaitu liburan) tidak dihitung.
6. Propensity to quit. Akhirnya, kecenderungan untuk meninggalkan organisasi diukur dengan tiga item skala "turnover propensity" yang dikembangkan oleh Seashore, Lawler, Mirvis, dan Cammann (1982). Respon untuk masing-masing item adalah skala tujuh poin.


HASIL

Tabel 1 menunjukkan hasil Intercorrelations variabel di keempat titik waktu, mengikuti pola yang cukup jelas. Pengukuran berbasis kuestioner dari administrasi tunggal yang cukup intercorrelated, kemungkinan besar sebagai hasil dari kombinasi saling ketergantungan konstruk dan metode varians. Korelasi antara variabel yang diukur antar waktu yang lebih kecil. Absenteeism dan propensity berkorelasi lebih jarang dengan variabel lain, meskipun korelasi yang signifikan dari kecenderungan ke arah yang tepat - negatif. Hasil yang paling menarik adalah korelasi dengan kinerja. Kinerja tidak signifikan berkorelasi dengan salah satu variabel pada setiap titik waktu tunggal, meskipun waktu 3 dan 4 ukuran kinerja memiliki korelasi kecil tapi signifikan dengan waktu 1 dan waktu 2 skor potensi motivasi.
Dua prosedur analitik yang berbeda digunakan. Dalam keadaan ideal, repeated-measures multivariate analysis of variance (MANOVA) desain, perbedaan rata-rata antara kelompok eksperimen dan kelompok pembanding akan menjadi pendekatan utama. Namun, mengingat perbedaan ukuran yang besar antara dua kelompok (526 berbanding 38) dan tampilan data kelompok pembanding pada waktu 4, sebenarnya lebih instruktif untuk menggunakan desain repeated-measures MANOVA desain dalam kelompok perubahan dari waktu ke waktu. Desain yang terakhir dibahas pertama.
The repeated-measures MANOVA dari kelompok eksperimen menghasilkan nilai F-sebesar 14,25, yang signifikan melebihi tingkat .001. Nilai F untuk kelompok pembanding adalah 1,34, yang tidak signifikan. Tabel 2 menunjukkan hasil dari uji F- univariat, dengan mean dan standar deviasi. Ada perbedaan yang signifikan di periode waktu antara skor potensi motivasi, kepuasan, komitmen, dan nilai kinerja dalam kelompok eksperimen tetapi tidak dalam kelompok pembanding. Selisih nilai atas absenteeism, dan propensity tidak signifikan untuk kedua kelompok.

Tabel 2 juga menunjukkan hasil Duncan’s multiple range tests setiap pasangan untuk memastikan perbedaan. Berarti secara umum solid menggarisbawahi dalam tabel ditemukan perbedaan pada tingkat signifikansi .01. Ketika hasil ini dihubungkan kembali dengan mean value, muncul pola perubahan yang jelas. Potensi motivasi skor value, misalnya, meningkat secara signifikan dari waktu 1 ke waktu 2 dan cukup konstan pada waktu 3 dan 4. Dengan demikian, ternyata dirasakan perubahan dalam pekerjaan mereka, dan persepsi-persepsi ini tidak menurun selama periode 48 bulan.
Kepuasan kerja mengikuti pola yang berbeda, meningkat secara signifikan dari waktu 1 ke waktu 2, tetapi waktu 3 tidak berbeda nyata dari waktu 1 dan tidak berubah secara signifikan pada waktu 4. Komitmen mengikuti path yang sama dengan kepuasan, awalnya meningkat dan kemudian menurun ke level semula.
Skor kinerja masih mengikuti path yang berbeda. Nilai-nilai ini tidak berubah secara signifikan dari waktu 1 ke waktu 2 tetapi meningkat secara signifikan dari waktu 2 ke waktu 3, tingkat yang lebih tinggi pada waktu 4. Dengan demikian, ada pola yang jelas diidentifikasi dalam perubahan variabel terikat selama tiga periode waktu, meskipun ada juga tiga pola yang unik.
Kolom terakhir Tabel 2 menampilkan efek ukuran untuk setiap variabel. Pengaruh ukuran untuk kelompok pembanding semuanya cukup kecil. Demikian juga, efek ukuran untuk absenteeism, dan propensity, kecil untuk kelompok eksperimental. Komitmen dan kinerja mencerminkan efek ukuran yang moderat pada kelompok experimental (Cohen, 1988). Dengan demikian, hasil-hasil pengamatan umumnya konsisten dan jelas.
Seperti disebutkan sebelumnya, juga menggunakan repeated-measures MANOVA desain, berarti perbedaan antara kedua kelompok. Nilai F-signifikan 16,37 (p <.001)., Hasil analisis ini konsisten dengan yang dijelaskan di atas. Ada beberapa perubahan antara kelompok. Sebagai contoh, kinerja tidak berbeda nyata pada waktu 1 atau waktu 2, tetapi pada waktu 3 (p <.01). Dengan jumlah responden yang berbeda, hasil ini dilihat hanya sebagai suplemen dari analisis utama.


PEMBAHASAN

Pola yang menarik muncul dari studi ini, pola yang memiliki implikasi yang jelas untuk praktik manajer dan tugas desain. Pertama, intervensi redesain tugas signifikan mengubah persepsi karyawan ke arah yang diprediksi dan diinginkan. Selain itu, persepsi berubah tetap pada level yang baru selama masa studi. Kedua, sikap (kepuasan dan komitmen) juga meningkat cepat tetapi kemudian menurun ke tingkat semula. Akhirnya kinerja yang tidak meningkat pada awalnya, tetapi meningkat secara signifikan pada akhir masa studi.
Temuan ini menunjukkan pentingnya melihat pola perubahan selama waktu yang lama dan memperoleh beberapa pengukuran variabel kunci. Misalnya, jika studi ini mengambil pengukuran pada waktu 1 dan waktu 2 saja, akan menyimpulkan bahwa redesain tugas sangat meningkatkan persepsi dan sikap, tetapi tidak pada kinerja. Atau, studi hanya berdasarkan data waktu 1 dan waktu 3 akan menunjukkan bahwa redesain tugas meningkatkan persepsi tetapi tidak pada sikap atau kinerja. Akhirnya, hanya waktu 1 dan waktu 4, akan menunjukkan bahwa redesain tugas meningkatkan persepsi dan kinerja tetapi tidak pada sikap. Hanya dengan mendapatkan beberapa pengukuran selama jangka waktu itu saya mampu mendeteksi berbagai perubahan dan hubungan.
Keterbatasan penelitian; ukuran kecil kelompok pembanding dan tidak tersedianya waktu 4 membatasi kekuatan penelitian. Kekuatan analisis menunjukkan kekuatan statistik dari .82, tingkat yang wajar tapi tidak terlalu kuat. Dengan demikian, hasil kelompok pembanding memberikan beberapa wawasan yang wajar tetapi harus dievaluasi cukup konservatif.
Demikian pula, kurangnya kontrol atas aktivitas lainnya di bank membatasi kesimpulan mengenai perubahan kinerja. Hackman & Oldham, (1980) mencatat, beberapa hal yang berbeda dapat meningkatkan kinerja. Satu penjelasan hasil penelitian ini bisa memotivasi karyawan karena perubahan redesain pekerjaan akan meningkatkan kinerja. Penjelasan lain bahwa perubahan menghilangkan inefisiensi berbagai sistem kerja lama. Efek Hawthorne juga bisa menyebabkan beberapa perubahan yang diamati.
Implikasi: untuk teoritis, pesan utama, perlu melakukan pekerjaan yang lebih baik dengan memasukkan waktu ke dalam model kausal dan teori. Tema utama dari ilmu organisasi adalah mencari hubungan yang handal antara variabel independen dan variabel dependen. Pada saat yang sama, tidak ada alasan untuk menganggap bahwa, jika perubahan variabel independen pada kenyataannya mempengaruhi satu set variabel dependen, perubahan itu merupakan manifestasi waktu.
Untuk peneliti empiris, penemuan yang paling penting dari studi ini adalah perbedaan pola perubahan di seluruh periode waktu. Peneliti perlu lebih sensitif terhadap sifat variabel persepsi, sikap, dan perilaku. Variabel bebas mungkin memberi efek yang berbeda pada berbagai jenis variabel dependen. Dengan demikian, penelitian perlu dirancang untuk memperhitungkan dan menangkap nuansa dalam hubungan kausal, terutama ketika berhubungan dengan berbagai nuansa interval kausal.
Bagi manajer, mungkin pesan utama berkaitan dengan peran redesain pekerjaan sebagai intervensi perubahan. Temuan yang dilaporkan di sini menggarisbawahi kebutuhan untuk mempertahankan redesain pekerjaan sebagai alat yang layak untuk meningkatkan pengalaman karyawan bekerja. Banyak manfaat dapat diperoleh karyawan dan organisasi.

PERSON PERCEPTION OLEH DAVID L.HAMILTON

Artikel ini membicarakan mempersepsikan orang lain dan bagaimana persepsi orang tersebut memengaruhi penafsiran tentang perilaku orang yang dipersepsikan tersebut.. Cara mempersepsikan orang dapat memengaruhi penafsiran tentang perilaku orang dan bahkan rentetan interaksi di masa yang akan datang , tugas memahami proses persepsi terhhadap orang mempunyai signifikansi yang layak. Dalam bab ini, kami akan membicarakan beberapa ide teoritis dan pendekatan riset yang sudah berkembang karena ahli psikologi social sudah meneliti proses ini. Semua ide dan pendekatan ini diambil dari perspektif pengolahan informasi, karena kami akan memperhatikan terutama sekali pada bagaimana orang memahami orang orang lain yang ada disekamir mereka.
Pendekatan pengolahan informasi ini tergantung pada asumsi bahwa persepsi seseorang mengenai orang lain didasarkan pada informasi yang tersedia tentang orang tersebut dan bagaimana orang menggunakan informasi ini. Informasi ini mungkin dibatasi pada karakteristik fisik-----Chris tinggi, menarik, dan berpakaian bagus. Dalam kita mempersepsikan orang lain, kita berusaha untuk memperoleh pemahaman mengenai orang itu seperti apa, memahami informasi yang kita peroleh tentang dia
STRUKTUR KOGNITIF DALAM PERSEPSI ORANG
Orang yang berpersepsi mempunyai struktur kognitif. Struktur kognitif ini mereka gunakan dalam mengorganisir dan menafsirkan dunia stimulus. Stereotipe dan ekspektasi yang diikuti dari mereka ada di pikiran orang yang berpersepsi tersebut. Dalam bagian pertama dari bab ini kami akan membahas sifat dari struktur kognitif yang dibawa oleh orang yang berpersepsi pada proses persepsi dan bagaimana struktur tersebut dapat memengaruhi persepsinya terhadap lainnya.
TEORI KEPRIBADIAN YANG IMPLISIT
Ahli psikologi sosial yang tertarik dengan persepsi orang sudah mengetahui pentingnya struktur kognitif dari orang yang berpersepsi . Yaitu seperti ahli teori kepribadian, pengamat perilaku manusia yang naif mengembangkan ekspektasi dan membuat kesimpulan mengenai apa yang terjadi dengan apa dalam kepribadian lainnya. Pola keyakinan dan ekspektansi ini diacu sebagai teori kepribadian implisit dari orang yang berpersepsi.
BUKTI YANG MENYATAKAN PENTINGNYA TEORI KEPRIBADIAN IMPLISIT
Satu tipe bukti yang menyatakan pentingnya teori kepribadian implisit adalah dalam mempertimbangkan kesimpulan tentang seseorang.kesimpulan yang dibuat dapat dijelaskan dengan mengenali bahwa beberapa struktur kognitif terdapat di dalam orang yang berppersepsi tersebut. Dan kesimpulan ini menunjukkan pengaruh dari teori kepribadian implisit dari orang yang berpersepsi tersebut mengenai proses persepsi tersebut.
SKEMA SKEMA DALAM PERSEPSI ORANG
Riset mengenai teori kepribadian implisit telah menunjukkan bahwa orangyang memberi perpsepsi (perceiver) mempunyai konsep yang sudah baik tentang sifat sifat keprbadian, dan harapan dari perceiver tersebut tentang aspek aspek kepribadian apa yang mungkin ada bersama dapat memengaruhi kesimpulan tentang orang lain. Banyak dari riset ini sudah berfokus pada struktur teori kepribadian implisit, penilaian perbedaan individu dalam struktur kognitif dan penelitian hubungan antara kepribadian perceiver dan konstruk teori kepribadian implisit. Dengan memiliki struktur kognitif ini, menjadi penting untuk menentukan bagaimana struktur kognitif tersebut memengaruhi pengolahan informasi secara kognitif mengenai orang.
PENGARUH SCHEMA PADA ENCODING (PENYANDIAN)
Beberapa faktor dapat memengaruhi aspek informasi stimulus yang mana akan diselesaikan oleh perceiver. Salah satu dari faktor ini adalah schema yang akan ia gunakan pada waktu mengolah informasi.
Pengaruh schema pada penyandian informasi sudah ditunjukkan oleh Zadney dan Gerard. Ketiga kumpulan schema yang berbeda dalam perceiver tersebut akan memengaruhi perhatian subyek dan penafsirannya terhadap rincian rincian perilaku aktor tersebut. Hasil dari studi tersebut menunjukkan bahwa bahwa subyek subyek cenderung mengingat ingat lebih banyak item yang sesuai dengan maksud aktor yang dipersepsikan.
PENGARUH SCHEMA PADA ORGANISASI DAN GAMBARAN
Informasi yang disandikan kedalam ingatan tidak disimpan sebagai pengetahuan yang terisolir, rather, orang yang berpersepsi mengorganisir infomasi ke dalam kerangka yang berarti. Schema yang digunakan dalam mengolah informasi mengenai pihak lain dapat memberikan konteks yang berarti dimana informasi diorganisir dan dismpan.
PENGARUH SCHEMA PADA KESIMPULAN DAN PENAFSIRAN INFORMASI
Kami sudah menyatakan bahwa informasi yang sudah diperoleh melalui orang lain diseleksi,disandikan, dan disajikan dalam ingatan dalam kerangka schema schema yang digunakan oleh perceiver pada waktu pembentukkan sedang diolah. Schema schema ini juga menyediakan konteks dimana perceiver menafsirkan arti atau makna dari informasi yang diperoleh tersebut dan mengambil kesimpulan berdasarkan pada penafsiran makna informasi tersebut.
PENGARUH SCHEMA PADA PEMEROLEHAN KEMBALI INFORMASI
Kita telah melihat bahwa pengaktifan schema tertentu dapat memengaruhi informasi tentang orang stimulus apa yang disandikan dan bagaiman informasi ini ditafsirkan. Disamping itu, schema dapat memengaruhi informasi apa yang diperoleh kembali dari ingatan dan bagaimana informasi ini ditafsirakn dalam proses pemerolehan kembali tersebut.
PEMBENTUKKAN KESAN
Bila kita bertemu orang asing pertama kali, kita mulai membentuk kesan di depannya segera.
PENGEMBANGAN KESAN PERTAMA
Riset mengenai pembentukkan kesan dimulai dengan paper klasik yang diterbitkan pada tahun 1940an oleh Sulaiman Asch (1946). Asch yang pemikirannya menggambarkan ajaran psikologi Gestalt, percaya bahwa kesan seseorang merupakan konsepsi yang terorganisir dan terpadu mengenai kepribadian orang tersebut. Orang membentuk kesan dari orang secara keseluruhan .; yaitu orang dipandang sebagai unit yang terpadu, bukan sebagai gabungan beberapa bagian. Kesan bukanlah sekumpulan potongan potongan informasi individu. Namun, item item informasi berinteraksi dengan satu sama lain dan menjadi terpadu kedalam gambar total dari orang tersebut.
INTEGRASI INFORMASI DALAM MENILAI ORANG LAIN
Baris kedua dari riset mengenai proses pembentukkan pesan berkaitan tidak hanya dengan bagaimana informasi mengenai orang menjadi terorganisir secara kognitif tetapi juga berkaitan dengan bagaimana perceiver tersebut mengkombinasikan informasi tersebut dalam membuat penilaian tentang orang tersebut.
TERTIMBANG INFORMASI SECARA DIFERENSIAL
Dalam menentukan nilai nilai yang diprediksi tersebut dari model tertentu, nilai nilai skala dari item individu tersebut sudah dirata-ratakan atau dijumlahkan. Adalah jelas bahwa dalam setiap penilaian beberapa jenis informasi akan lebih penting dari yang lainnya. Pertimbangkan lagi dapat dipercaya, ramah,pintar lucu, dan malas yang sudah kami gambarkan untuk orang. Seberapa penting untuk penilaian anda bahwa orang itu malas ? jika kamu mempertimbangkan seberapa banyak kamu menyukai orang ini sebagai teman satu kamar kamu, kemalasan akan menjadi kurang penting daripada pengetahuan bahwa orang itu dapat dipercaya, ramah,dan pintar lucu. Sebaliknya, jika kamu menilai seberapa banyak kamu menyukai oranv tersebut sebagai rekan kerja pada suatu proyek penting, fakta kemalasan mungkin sangat penting. Jadi, bobot yang diberikan kepada atribut ini akan berbeda dalam dua konteks penilaian tersebut. Bobot yang dilampirkan pada item stimulus tersebut menggambarkan pentingnya atribut untuk penilaian tertentu yang dibuat.
PROSES ATRIBUSI
Atribusi adalah sebuah teori yang membahas tentang upaya-upaya yang dilakukan untuk memahami penyebab-penyebab perilaku kita dan orang lain. Definisi formalnya, atribusi berarti upaya untuk memahami penyebab di balik perilaku orang lain, dan dalam beberapa kasus juga penyebab di balik perilaku kita sendiri.model Atribusi mengenai motivasi mempunyai beberapa komponen, yang terpenting adalah hubungan antara atribusi, perasaan dan tingkah laku. Menurut Weiner, urutan-urutan logis dari hubungan psikologi itu ialah bahwa perasaan merupakan hasil dari atribusi atau kognisi. Perasaan tidak menentukan kognisi, misalnya semula orang merasa bersyukur karena memperoleh hasil positif dan kemudian memutuskan bahwa keberhasilan itu berkat bantuan orang lain. Hal ini merupakan urutan yang tidak logis (weiner, 1982 hal 204).
TEORI PROSES ATRIBUSI
Psikologi Naif dari heider. Bagaimana kita menafsirkan perilaku kita sendiri, serta orang lain, membentuk dasar untuk pekerjaan Fritz Heider selama karir yang berlangsung lebih dari 60 tahun. Heider menjelaskan sifat hubungan antar pribadi , dan karyanya memuncak dalam buku 1958 The Psychology Hubungan interpersonal. Heider didukung dengan konsep yang disebut "naive psychology ". Dia percaya bahwa atribut perilaku orang lain dengan persepsi mereka sendiri, dan bahwa persepsi itu dapat ditentukan baik oleh situasi tertentu atau dengan keyakinan yang sudah lama dipegang. Konsep ini mungkin tidak tampak rumit, tapi membuka pintu penting untuk pertanyaan tentang bagaimana orang berhubungan satu sama lain dan mengapa.
Heider, dua muda putra, lahir di Wina pada tanggal 18 Februari 1896, untuk Moriz dan Eugenie von Halaczy Heider. Dia adalah pembaca setia dan murid yang baik, dan ia masuk ke Universitas Graz (Austria). Ia menerima gelar Ph.D. pada tahun 1920, dan menghabiskan beberapa tahun berikutnya perjalanan melalui Eropa. Bagian dari waktu ini dihabiskan sebagai mahasiswa di Institut Psikologi Berlin. Pra-Perang Dunia II Berlin adalah salah satu kota yang paling intelektual merangsang di Eropa, dan dia istimewa untuk belajar dengan ulama luar biasa.
Pada tahun 1930, Heider menerima tawaran untuk melakukan penelitian di Sekolah Clarke untuk Tuli di Northampton, Massachutsetts, dan menjadi asisten profesor di Smith College. Heider keputusan untuk datang ke Amerika Serikat terbukti menguntungkan karena dua alasan. Selain pekerjaan dia lakukan-pertama di Smith, dan kemudian di University of Kansas-Heider bertemu Grace Moore, yang melakukan penelitian sendiri di Clarke. Mereka menikah pada Desember 1930, dalam otobiografinya, The Life of Psikolog (1983), Heider credits istrinya karena kontribusi yang sangat berharga baginya untuk pekerjaannya. Para Heiders memiliki tiga anak selama tahun-tahun mereka di Northampton.
Dimulai di Smith, Heider mulai melakukan penelitian yang menyebabkan teori-teorinya tentang hubungan interpersonal. Ia melanjutkan pekerjaannya ketika dia pindah ke Lawrence, Kansas, pada tahun 1947 untuk mengambil jabatan profesor di University of Kansas. Telah dikatakan bahwa Heider mendekati psikologi cara fisikawan akan mendekati teori ilmiah. Dia sangat metodis dan teliti dalam penelitiannya, yang sering dapat membuat frustasi, tapi hati-hati mengembangkan ide-ide yang ia akhirnya diuraikan dalam The Psychology Hubungan interpersonal.