A. PENDAHULUAN
Artikel ini membahas nasalah pedoman bagi mahasiswa doktor yang ikut dalam pelatihan dalam bidang pemasaran. Tujuan mendasar dari pelatihan doktoral dalam bidang pemasaran adalah mempersiapkan mahasiswa untuk dapat melakukan penelitian yang orisinil yang dapat memberi kontribusi pada pengetahuan pemasaran , yaitu dapat memahami gejala-gejala teoritis dalam domain pemasaran. Mahasiswa harus dapat mengembangkan pemahaman teori pemasaran dan bagaimana teori tersebut dapat diuji dalam penelitian empirik. Artikel ini akan mencakup (1) masalah memperoleh ketrampilan dalam memadukan teori,model dan topik-topik penelitian,(2) Model tiga tahap, dan (3) dan bagaimana model tersebut digabungkan dalam suatu seminar doktor. Untuk mengatasi masalah mengenai bagaimana memperoleh ketrampilan dalam memadukan teori, model, dan topik penelitian, peneliti harus mengetahui akar permasalahan terlebih dahulu. Masalah ini lah yang akan menjembatani teori , topik penelitian dan model. Topik riset akan memadukan tiga komponen, yaitu (1) fenomena empirik, (2) penjelasan teoritis terhadap fenomena tersebut, dan (3) dan beberapa hipotesis yang berasal dari penjelasan teoritis tersebut. Tujuan dari artikel ini adalah menyajikan suatu model hipotesis yang berasal dari setting teori yang dapat diuji untuk menutup celah dan menyediakan pendidik dalam bidang pemasaran ide-ide yang diharapkan dapat memberikan manfaat dalam memecahkan masalah integrasi tersebut.
B. TINJAUAN KERANGKA THEORY SETTING-TEST UNTUK PENGEMBANGAN
HIPOTESIS
Pengembangan hipotesis yang dihubungkan dengan teori dapat dilakukan melalui tiga tahap, yaitu (1) teori dan prediksi, (2). Setting dan dalil, dan (3) Hipotesis dan pengukuran. Pertama , peneliti mereview literature teoritis dan penelitian sebelumnya untuk memperoleh serangkaian prediksi yang akan diuji secara empiris. Kedua, setting adalah visi, dimana peneliti dapat mengobservasi variabel dan proses.Ketiga pengukuran operasional adalah yang diperoleh untuk konsep dalam preposisi. Framework adalah rekonstruksi logis dari proses riset, tidak semua peneliti akan menggunakan serangkaian tahapan yang disajikan disini.
The T Step: Theoretical Statements and Prediction
Teori ini untuk membuktikan mengapa beberapa fenomena sebagai konsekuensi dari variabel independen. Sebagai tahap permulaan, mahasiswa dinasehati untuk mencari literature pada suatu topic yang menarik untuk pernyataan (statement) yang menghubungkan variabel independen dengan variaberl dependen.
Identification of Theoretical Statement
Untuk menggambarkan teori untuk proses prediksi, diasumsikan bahwa mahasiswa tertarik akan sales force turnover. Peneliti terdahulu menemukan bahwa jika job satisfaction menurun, turnover menurun (see table 1). Tetapi penelitian gagal untuk membedakan antara salesperson yang tidak puas dengan sales sebagai jabatan (occupation) dibandingkan dengan yang kurang puas dengan beberapa aspek sales job mereka. Teori menyarankan bahwa job satisfaction adalah komposisi dari 2 komponen: (1) intrinsic saticfaction dengan self-bestowed reward dari pekerjaannya dan (2) extrinsic satisfaction dengan externally bestowed reward, seperti gaji dan benefits lain (Churchill, Ford dan Walker 1974). Alasannya bahwa kepuasan secara intrinsic karyawan yang kurang puas dengan extrinsic reward akan mencari employment lain dalam penjualan. Disisi yang lain, ketidakpuasan secara intrinsic karyawan akan mencoba untuk mengubah jabatan. Menurut pernyataan teoritis akan diturunkan: jika pekerja secara intriksik puas, seperti job satisfaction extrinsic menurun (X), pekerja yang mencari pekerjaan lain dalam jabatan yang sama akan meningkat (Y).
Component of the Theoretical Statement
Pengenalan ketiga komponen pernyataan teoritis, yaitu: Pertama, konsep. Kedua bentuk hubungan, sebagai contoh, kepuasan ekstrinsik menurun, kemungkinan mencari pekerjaan lain meningkat. Ketiga, keterkaitan teoritis – mengapa konsep diposisikan untuk terkait.
Formasi konsep adalah tugas yang sulit karena konsep yang ideal akan merupakan konsep yang universal, dapat diaplikasikan untuk setiap situasi (Isugweb 1989). Konsep teoritis membuka perbedaan definisi operasional yang dapat digunakan untuk mengukur konsep. Explisit teoritikal definisi konsep adalah kebutuhan untuk menyampaikan arti dan pengukuran fasilitas (Hag 1972). Penulisan definisi teoritis adalah alat penting untuk menghubungkan teori dan hipotesis. Sebagai dasar, ukuran konsep dalam hipotesis merupakan bagian dari domain konsep dan spesifikasi domain yang merupakan tahapan awal dalam memperoleh ukuran yang valid dan reliable (Churchill 1979). Alasan lain untuk mengembangkan difinisi teoritis explicit adalah modifikasi dalam definisi data, yang mendorong hipotesis baru dan peluang penelitian. Element penting dari teori adalah serangkaian pernyataan yang membentuk teori mesti terkait secara sistematis. Penggunaan proses untuk mencocokkan antar hubungan antara pernyataan merupakan formalisasi parsial (Hunt, 1991). Hipotesis riset adalah pernyataan prediksi yang mana konsep proposisi ditempatkan dengan difinisi operasional dan keterkaitan operasional dengan uji statistic. Pertanyaan difinisi operasional dan uji statistic melibatkan beberapa isu. Difokuskan pada uji logical dari definisi operasional dan keterkaitan antara konsep. Bentuk hubungan (misalnya: linear, power curve), difinisi operasional menentukan uji statistic (Hage, 1972; Hunt 1991). Pernyataan bahwa setting empiris untuk pernyataan teoritikal dan proposisi dibatasi oleh bridge laws dan serve untuk menyelesaikan gap antara tingkat pernyataan teoritikal dengan difinisi theoritikal dan setting fenomena spesifik, yang diekspresikan dalam hipotesis riset (Hunt, 1991). Bridge laws juga membatasi guiding hypotheses atau asumsi. Setting dan konsep proposisi tahap pengukuran operasional melibatkan serial bridge laws. Uji logical definisi operasional merupakan homology dengan konsep proposisi, yang sesuai dengan definisi proposisi dari konsep dan membandingkan dengan difinisi operasional (Dubin 1978).
PERTANYAAN :
1. Masalah penelitian merupakan suatu pondasi dalam melakukan suatu penelitian. Singkatnya, masalah penelitian adalah adanya gap atau kesenjangan antara harapan dengan kenyataan, teori dengan praktek, yang seharusnya dengan yang terjadi. Bagaimana langkah-langkah dalam menentukan pondasi dalam menentukan topik penelitian?
2. Masalah penelitian akan menentukan keberhasilan dari suatu penelitian. Ada seorang pakar penelitian yang menyatakan bahwa ”Ketika seorang peneliti sudah berhasil memformulasikan (baca: ”menemukan”) masalah penelitian, maka sebenarnya 50% penelitian tersebut sudah
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar