Kita semua aktif dan tertarik berpartisipasi dalam persipsi soail, yang merupakan suatu proes dimana manusia sampai pada pemahaman satu terhadap lainnya.
Pada chapter ini dibagi menjadi 4 komponen, yaitu (1) kita melihat pada raw data dari persepsi sosial, (2) kita menilai bagaimana persepsi menjelaskan dan menganalisa perilaku orang lain, (3) kita mempertimbangkan bagaiman manusia mengintegrasikan berbagai penjelasannya pada gambar orang lain secara jelas dan masuk akaln, (4) kita mendiskusikan jalan halus tak kentara dimana kesan kita dapat menciptkan gambaran yang menyimpang akan dari realita, dan bahkan mengisi ramalan kita sendiri.
ATRIBUTION: FROM THE ELEMENTS TO DISPOSITIONS
Dalam berinteraksi dengan oarang lain, merupakan hal yang berguna untuk memahami perasaan mereka dan kapan saatnya mereka dapat dipercaya. Tetapi untuk memahami manusia secara baik guna memprediksi perilaku mereka masa mendatang, kita juga memerlukan untuk mencoba untuk mengidentifkasi watak mereka (itu adalah merupakan karakteristik mereka yang relatif stabil seperti juga sifat, sikap, dan kemampuan mereka). Berikut kita melihat proses yang memandu kita untuk membuat kesimpulan.
Atribution theory: the logic of social perception
Meskipun terdapat perbedaan-perbedaann individual, tetapi sebagian besar manusia centerung untuk ingin tahu tentan kejadian negatif atau yang tidak diharapkan. Jika sesuatu yang tidak diharapkan terjadi, seseorang ingin mengetahui mengapa.
Untuk mengatahui dunia sosial kita, kita mencoba untuk memahami penyebab perilaku kita sendiri dan perilaku orang lain. Tetapi apa jenis penjelasan yang kita buat, dan bagaimana kita membuatanya dijelaskan dalam buku The Psychology of interpersonal relation oleh Fritz Heider (1958). Menurut dia merupakan hal yang berguna untuk mengelompokkan perilaku manusia menjadi kategori personal dan situasional. Jika seorang invetor kehilangan uang di pasar modal, dia dapat di blamed disalahkan karena membuat keputusan yang tidak logik, atau kerugaian dapat dikatakan merupakan akibat dari perubahan-perubahan yang tidak bisa diramalkan.
Jones’s correspondent inference theory
Seperti yang dikatakan oleh Jones dan Keith Davis (1965) bahwa masing-masing dari kita mencoba untuk memahami orang lain dengan menganalisis perilaku mereka. Jones dan David’s coresspotent inference theory memprediksi bahwa manusia mendoba untuk menyimpulkan dari suatu tindakan apakah apakah berhubungan dengan suatu pengabadiak karakteristik personal pelakunya. Guna menjawabny, manusia umumnya membuat kesimpulan berdasarkan 3 faktor, (1) person’s degree of choice, (2) expectednes of behavior, (3) the intended effects of consequences of someones behavior.
Kelley’s covariation theory
Correspondent inference theory menggambarkan bagaimana manusia mencoba untuk menentukan karakteristik personal seseorang dari sekilas bukti perilaku. Akan tetapi, perilaku dapat diatributkan tidak hanya pada faktor-faktor personal tetapi juga faktor-faktor situasional. Pada point ini mungkin anda ingin tahu apakah manusia betul-betul membuat atribut seperti yang diproposisikan oleh Kelly. Para peneliti sangat menyarankan hal tersebut.
Weiner’s three dimension taxonomy
Weiner mengusulkan 3 taksonomi dimensional atas atribut keberhasilan dan kegagalan, yaitu (1) internal-eksternal, (2) stable-unstable, (3) controlable-uncontrolable. Weiner’s taxonomi konsisten dengan intuisi. Pada saat subyek diminta untuk menjelaskan berbagai hasil positif dan negatif (baik atas dirinya atau orang lain) atribut-atribut mereka selalu sesuai dengan kategori Weiner. Juga, macam atribution yang berbeda dapat memiliki motivasional penting dan konsekweinsi emosional apabila manusia menjelaskan kinerja mereka sendiri. Kita semua merasa lebih baik menghadapi kemenangan kita daripada kegagalan, tetapi atribut-atribut yang kita buat untuk keluaran-keluaran tersebut hanya penting bagi keluaran itu sendiri.
Attribution Blases: The “Bloopers” of social perception
Setelah teori-teori atribusi utama diusulkan pertama kali, mereka direpresentasikan dengan diagram alur yang rumis, kubus, formula-formula, dan diagram-diagaram yang menjadikan psikologi sosial menjadi sesuatu yang mengagumkan. Apakah manausia sungguh-sungguh menganalisis berilaku sperpti yang diharapkan pada komputer? Apakah perasa sosial memliki waktu, motivasi, dan kapasitas kognitif untuk mengalaborasi? Jawabnya kadang-kadang iya dan kadang-kadang tidak. Kita memiliki keterbatasan dalam kemampuan untuk memproses semua informasi atau mungkin kekuarnagan pelatihan yang diperlukan untuk mempergunakan the logic of attribution theory.
The fundamental attribution error
Kesalahan fundamentalnya adalah bahwa pada saat manusia menjalsakan perilaku orang lain, mereka underestimate akan dampak situasi dan akan overestimate kan peran dari faktor-faktor personal.
The actor observer effect
Kecenderungan untuk membuat atribusi personal bagi perilaku orang lain dan atribut situasional bagi perilaku kita sendiri disebut dengan actor observer effect. The actor observer effect telah ditunjukkan secara luas.
Dua faktor penting yang menyebabkan perbedaan antara actor dan observer, yaitu (1) manusia memiliki informasi yang beragam tentang dirinya sendiri daripada orang lain, (2) persepsi yang menonjol menjadi berperan lagi.
Distorsion of concensus
Attribution theories mengklaim bahwa untuk menggambarkan kesimpulan tentang individual, manusia membandingkan perilakunya dengan norma sosial. Tindakan-tindakan diasumsikan tidak beripikal, atau berkonsensus rendah, sangat mendapatkan personal attribution; tindakan-tindakan yang bertipikal atau yang berkonsensus tinggi harus beratribut lebih berkaitan dengan situasi. Kesalahan concensus effect adalah meresap/merembes. Apakah subyek diminta untuk memprediksi bagaimana perasaan orang lain tentang obat-obatan, aborsi dsb, perkiraan mereka dapat diprediksi membesar-besarkan persentase mereka yang setuju dengan pandangan mereka. Mengapa? (1) cognitive problem of selective exposure, (2) pengaruh dari self serving motivation
Motivational bias
Tendensi untuk meremehkan korban kelihatan seperti gejalan lain dari fundamental atribution error, sangat banyak berfokus pada perseorangan dan tidak cukup hanya pada situasi. Jika kondisi yang mempengaruhi kecenderungan tersebut dipertimbangkan, akan lebih mendorong pada kecenderungan tsb.
Confirmation bias: from impresssions to reality
Merupakan kecenderungan mencari, menafsirkan, dan menciptakan informasi dengan memverifikasi kepercayaan-2 yang berlangsung
Confirmatory hypothesis testing
Perasa sosial tidak hanya sebagai peneriman informasi yang pasif, tetapi akan bertanya dan secara aktif mencari isyarat-isyarat. Apakah kita mencari infoarmasi secara obyektif ataukah kita cenderung untuk mengkonfirmasi kecurigaan yang telah kita pegang?
Perseverance of biliefs
Mengapa kepercayaan sering menguraikan bukti pada yang disarankan untuk dipakai sebagai dasar? Sebab utamanya adalah jika kita membuat penjelasan tentang rasa, maka penjelasan didasarkan pada milik mereka sendiri. Sekali seseorang membentuk poendapat, pendapat tersebut diperkuat dengan pikiran tentang topik tersebut.
Self fulfilling prophecies
Merton mengusulkan suatu hipotesis outragenous yang mana: bahwa harapan perasa dapat secara nyata memandu pengisiana ramalannya sendiri. Hipotesis Merton meletakkan masa tidak aktif dalam psikologi hingga Rosenthal dan Jacobson (1968) menerbitkan sudinya yang bejudul Pygmalion in the classroom. Bahwa guru memiliki harapan lebih besar pada siswa yang lebih baik, mereka ingin tahu apakah harapan guru mempengaruhi kinerja murid. Jika harapan positif guru dapat meningkatkan kinerja murid, apakah juga terkjadi pada keadaan yang sebaliknya.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar